Skip to content
WMJS
Apakah Harus Minum Alkohol di Jepang? — Bagaimana Budaya Minum Berubah dan Apa yang Sebenarnya Dirasakan Rekan Kerja Jepangmu Saat Kamu Menolak
Cara Jepang Bekerja Oleh Kei · Lahir dan besar di Jepang Diperbarui 16 menit baca

Apakah Harus Minum Alkohol di Jepang? — Bagaimana Budaya Minum Berubah dan Apa yang Sebenarnya Dirasakan Rekan Kerja Jepangmu Saat Kamu Menolak

Apa yang akan kamu pelajari dari artikel ini:

  • Apa kata 352 pekerja Jepang tentang menolak nomikai, hadir tanpa minum, dan bekerja dengan rekan kerja asing
  • Bagaimana budaya minum Jepang bergeser dari wajib menjadi opsional — didukung data pemerintah dan survei tempat kerja
  • Satu hal yang lebih penting dari minum atau tidak: sekadar hadir

Apakah harus minum alkohol di Jepang? Kami bertanya kepada 352 pekerja Jepang. Jawabannya jelas: tidak. 56% sekarang menganggap acara minum setelah kerja tidak diperlukan, dan 80% memandang tekanan untuk hadir sebagai pelecehan. Saat kamu menolak, reaksi paling umum rekan kerjamu bukan tersinggung — tapi lega.


Kalau kamu bekerja di Jepang — atau bahkan sekadar jalan-jalan dengan teman orang Jepang — kamu mungkin pernah dengar tentang nomikai: acara minum setelah kerja yang konon menjadi tempat hubungan dibangun, kesepakatan dicapai, dan kariermu diam-diam ditentukan di atas segelas bir.

Dan mungkin kamu bertanya-tanya: apakah aku benar-benar harus ikut? Apa yang terjadi kalau aku bilang tidak? Bagaimana kalau aku sama sekali tidak minum?

Begini faktanya: budaya minum Jepang sudah berubah lebih banyak dalam 5 tahun terakhir dibanding 50 tahun sebelumnya. Dan tahu tidak? Banyak pekerja Jepang juga sama leganya dengan kamu soal ini.

Kami mengumpulkan 352 opini berbahasa Jepang dari pekerja, manajer, dan penyelenggara tentang nomikai — menolak undangan, hadir tanpa minum, dan perasaan mereka saat rekan kerja asing ikut — untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik budaya minum Jepang yang terkenal itu.


Panduan Cepat

Situasi Apa Kata Orang Jepang
🟢 Tenang Menolak nomikai 48% merasa lega saat ada yang menolak — banyak yang diam-diam ingin pulang juga. Tidak ada yang memperhatikan siapa yang datang dan tidak seserius itu.
🟢 Tenang Hadir tanpa minum alkohol Teh oolong adalah pesanan standar untuk yang tidak minum. "Tidak bisa minum tapi tetap datang? Itu justru bikin kesan naik."
🟡 Perlu tahu Datang sekali Ada perbedaan nyata antara "tidak pernah datang" dan "pernah datang sekali." Pertemuan tim pertama atau pesta penyambutan adalah yang paling penting.
🟢 Tenang Rekan kerja asing ikut 57% benar-benar senang. "Waktu mereka bilang 'kanpai!' dengan bahasa Jepang yang masih patah-patah, seluruh meja jadi hangat."

Satu hal yang perlu diingat: Nomikai bukan lagi soal alkohol — ini soal menunjukkan bahwa kamu menghargai hubungan. Kamu bisa bilang tidak. Kamu bisa pesan teh oolong. Kamu bisa pulang setelah satu jam pertama. Yang penting adalah kamu pernah hadir setidaknya sekali, dengan ketulusan.


Bagaimana Kami Mengumpulkan Suara-Suara Ini

Kami mengumpulkan 352 respons berbahasa Jepang dari enam topik nomikai: menolak undangan (60 respons), hadir tanpa minum (60), bagaimana tekanan berubah (58), rekan kerja asing di nomikai (58), efek datang sekali (58), dan perbedaan generasi (58). Kami mengumpulkan suara-suara ini dari situs tanya jawab, forum, dan kiriman media sosial publik berbahasa Jepang, beserta liputan dari Diamond Online, Nikkei, dan media Jepang lainnya.

Catatan kecil: Ini bukan survei ilmiah terkontrol — ini adalah kumpulan apa yang dikatakan pekerja Jepang sungguhan dengan kata-kata mereka sendiri, dalam bahasa mereka sendiri, di platform publik. Kebanyakan panduan berbahasa Inggris memberitahu "cara bertahan di nomikai." Kami ingin menunjukkan mengapa mode bertahan sudah tidak diperlukan lagi.


Pergeseran Budaya — Apa yang Sebenarnya Berubah

56% pekerja Jepang sekarang menganggap acara minum setelah kerja tidak diperlukan.

Sebelum masuk ke data emosional, ini konteks yang mengubah segalanya: budaya minum Jepang sedang berada di tengah transformasi generasi. Ini bukan pergeseran halus — ini perubahan struktural yang didukung data kuat.

Angka-angka bercerita sendiri:

  • 78,4% → 57,8%: Persentase perusahaan Jepang yang mengadakan pesta akhir tahun atau tahun baru turun dari 78,4% di 2019 menjadi 59,6% di 2024, lalu turun lagi ke 57,8% di 2025 — penurunan pertama pasca-COVID, menunjukkan perubahan ini permanen, bukan sementara (Tokyo Shoko Research).
  • 56%: Persentase pekerja Jepang yang menganggap nominication (membangun hubungan lewat minum) tidak diperlukan — naik dari pandangan minoritas satu dekade lalu (Next Level / Mirai no Oshigoto, 2024, n=831).
  • ~80%: Persentase pekerja yang memandang tekanan hadir di nomikai atau mengkritik orang yang tidak minum sebagai nomi-hara — pelecehan minum (Persol Research Institute, 2023).
  • 2022: Tahun ketika undang-undang pencegahan power harassment Jepang mulai berlaku untuk semua pemberi kerja, membuat manajer bertanggung jawab secara pribadi atas perilaku memaksa — termasuk menekan bawahan untuk minum.

Yang dilakukan COVID adalah mempercepat perubahan yang sudah bergejolak. Saat nomikai menghilang selama pandemi, banyak pekerja menyadari mereka tidak merindukannya — dan kesadaran itu bertahan.

Perubahan bagus — lebih bebas
66%
Masih tergantung tempat kerja
22%
Rindu ikatan yang dulu
12%

行きたくない飲み会を断れる若い子が羨ましい。私の時代は断るなんて選択肢なかった。時代は変わったなって思う、いい方向に。 Aku iri sama anak muda yang bisa menolak nomikai yang tidak ingin mereka hadiri. Di zamanku, menolak bahkan bukan pilihan. Zaman sudah berubah, menurutku — ke arah yang lebih baik.

コロナで飲み会なくなった時、正直めちゃくちゃ楽だった。復活してからも断りやすい空気ができたのはよかった。 Waktu nomikai hilang karena COVID, jujur rasanya lega luar biasa. Bahkan setelah kembali, aku senang suasananya jadi lebih mudah untuk menolak.

飲み会断る人のこと「付き合い悪い」って思う人、もう絶滅危惧種だと思う。令和の職場でそんなこと言ったらパワハラ認定される。 Orang yang menganggap "tidak bisa bergaul" terhadap mereka yang menolak nomikai sudah hampir punah. Bilang begitu di tempat kerja era Reiwa, kamu akan dilabeli power harassment.

Tapi pergeseran ini juga menyimpan nostalgia yang jujur:

50代です。昔は飲みの席で部下の本音が聞けた。今はそういう場がなくなって、正直コミュニケーションの取り方がわからなくなった。 Aku sudah 50-an. Dulu, aku bisa mendengar perasaan jujur bawahan lewat meja minum. Sekarang kesempatan itu hilang, dan jujur aku tidak tahu lagi cara berkomunikasi. — Manajer, 50-an

💡 Gambaran besarnya

Stereotip lama — bahwa menolak nomikai sama dengan bunuh diri karier — adalah bagian dari Jepang yang sedang cepat pudar. Perlindungan hukum, perubahan generasi, dan kejernihan pasca-COVID telah membuat mengatakan "tidak" bukan hanya bisa diterima tapi juga umum. Pertanyaannya bukan apakah kamu bisa menolak. Tapi memahami apa arti pilihanmu bagi orang-orang di sekitarmu.


Apa yang Terjadi Saat Kamu Bilang Tidak

Jawaban jujurnya: kebanyakan rekan kerjamu akan merasa lega, bukan tersinggung.

Ini temuan paling mengejutkan dalam data kami. Saat seseorang menolak nomikai, respons emosional dominan dari rekan kerja Jepang bukan kekecewaan — tapi kelegaan. Banyak dari mereka juga ingin pulang.

Dari 60 respons tentang perasaan saat rekan kerja menolak:

Lega / memahami
48%
Tidak terlalu peduli
28%
Agak sedih
23%

正直、部下が飲み会断ってくれると内心ホッとする。自分も本当は早く帰りたいから。誰かが断ってくれると「じゃあ今日はやめとくか」って流れになるのがありがたい。 Jujur, kalau bawahan menolak nomikai, dalam hati aku diam-diam lega. Karena aku juga sebenarnya ingin pulang cepat. Kalau ada yang menolak, jadinya bisa bilang "ya sudah, hari ini skip aja ya," dan aku bersyukur.

正直に言うと、飲み会断られた時の第一感情は「あ、じゃあ自分も今日は早く帰れるかも」。安堵が9割。 Kalau mau jujur, emosi pertama saat ada yang menolak adalah "oh, berarti aku juga bisa pulang cepat hari ini." Lega 90%.

飲み会が嫌いなんじゃなくて、「断れない空気」が嫌い。だから誰かが断ってくれると、空気が変わって楽になる。断る人は勇者だと思ってる。 Bukan benci nomikai — aku benci suasana di mana kamu tidak bisa bilang tidak. Jadi kalau ada yang menolak, tekanannya terangkat. Menurutku orang yang berani menolak itu pahlawan.

飲み会断られても全然気にしない。逆に「あ、今日飲み会あったんだ」レベルで忘れてる。みんなそんなに他人のこと見てない。 Kalau ada yang menolak nomikai, aku sama sekali tidak peduli. Malah lupa sampai level "oh, hari ini ada nomikai ya?" Tidak ada yang memperhatikan orang lain seseriusnya itu.

Seorang manajer mengatakannya lebih langsung lagi:

管理職だけど、飲み会の出欠で人を評価したことは一度もない。断る人は自分の時間を大切にしてるだけ。むしろ仕事ができる人ほどサクッと断る印象。 Aku manajer, tapi tidak pernah sekalipun menilai seseorang dari kehadiran di nomikai. Orang yang menolak hanya menghargai waktu pribadinya. Malah, semakin kompeten seseorang, semakin cepat mereka menolak. — Manajer

Dan suara ini menangkap refleksi diri yang sedang terjadi di seluruh tempat kerja Jepang:

新人が飲み会全部断ってるの見て最初は「え?」って思ったけど、よく考えたら業務外だし、強制する方がおかしい。価値観アップデートしないとダメだなって反省した。 Awalnya melihat karyawan baru menolak semua nomikai aku pikir "hah?" Tapi dipikir-pikir lagi, ini di luar jam kerja, dan memaksa justru yang salah. Aku refleksi bahwa aku perlu memperbarui nilai-nilaiku.

Tapi 23% yang "agak sedih" juga patut diperhatikan. Mereka tidak marah — mereka merindukan:

飲み会断られると寂しいっていうか、「あ、自分と飲むのつまんないのかな」ってちょっと凹む。でも強制はしたくないから何も言わない。 Kalau ada yang menolak, bukan sedih sih tapi... agak down mikir "mungkin minum bareng aku membosankan ya?" Tapi aku tidak mau memaksa, jadi diam saja.

毎回断る人がいると、だんだん誘わなくなる。嫌いになったわけじゃなくて、申し訳ないから。本人は誘われなくなって寂しくないのかな。 Kalau ada orang yang selalu menolak, pelan-pelan aku berhenti mengajak. Bukan karena benci, tapi merasa tidak enak terus bertanya. Aku penasaran apakah dia merasa kesepian karena tidak diajak lagi.

Komentar terakhir itu layak direnungkan. Kesedihan dalam suara-suara ini bukan tentang hierarki atau kontrol — tapi tentang keinginan manusiawi yang tulus untuk terhubung, yang belum tahu cara mengekspresikan diri di lanskap budaya baru.


"Aku Ikut, Tapi Tidak Minum"

Hadir di nomikai tanpa minum alkohol itu sepenuhnya oke — dan justru menaikkan reputasimu.

Kalau kekhawatiranmu bukan soal hadir tapi soal alkoholnya sendiri, ini kabar baiknya: hampir setengah rekan kerja Jepang tidak peduli sama sekali kalau kamu tidak minum. Dan beberapa benar-benar terkesan karena kamu tetap datang.

Dari 60 respons tentang orang yang tidak minum di nomikai:

Oke banget — senang kamu datang
48%
Tergantung cara kamu menyikapinya
28%
Suasananya agak canggung
23%

飲めないのに来てくれるんだぁって、むしろ好感度高いですよ。素直に飲めないって言ってくれた方が周りも安心します。 "Tidak bisa minum tapi tetap datang" — itu justru bikin kesan makin bagus. Kalau kamu jujur bilang tidak bisa minum, orang-orang sekitar juga jadi tenang.

体質で飲めない人もいるんだし、ソフトドリンク頼めば何の問題もない。 Ada orang yang secara fisik tidak bisa minum alkohol. Pesan minuman ringan, tidak ada masalah sama sekali.

下戸の存在が許せないなんて時代遅れ。アルコール強要はアルハラですよ。 Tidak bisa menerima orang yang tidak minum itu ketinggalan zaman. Memaksa minum alkohol itu aru-hara — pelecehan alkohol.

Pesanan non-alkohol standar di nomikai adalah teh oolong — ūron-cha. Begitu umumnya sampai tidak ada yang berkedip. Pilihan populer lainnya termasuk ginger ale, bir non-alkohol, dan air soda. Pasar minuman non-alkohol Jepang sudah meledak dalam beberapa tahun terakhir, dan menu izakaya pun mencerminkannya.

Satu tips praktis dari data: cara kamu berkomunikasi itu penting. "Aku tidak bisa minum" (nomenai) diterima lebih hangat daripada "Aku tidak minum" (nomanai). Yang pertama menunjukkan keterbatasan fisik; yang kedua bisa terdengar seperti menghakimi. Ini perbedaan halus, tapi beberapa suara menyebutkannya:

「飲めません」と控えめに伝えるのが無難。自分の主義主張を強調すると反感を買うこともある。 Bilang "saya tidak bisa minum" dengan rendah hati itu lebih aman. Menekankan prinsip pribadi kadang bisa bikin orang lain kurang nyaman.

23% yang merasa agak canggung bukan bermusuhan — mereka merasa tidak enak sendiri. Ketidaknyamanan mereka sering datang dari arah yang mengejutkan: mereka merasa dinilai oleh orang yang masih sadar yang melihat mereka mulai mabuk.

無理して飲んで倒れたら逆に周りに迷惑かかりますよ。飲めないなら飲めないでいいんです。 Kalau memaksakan diri minum sampai tumbang, kamu justru yang merepotkan semua orang. Kalau tidak bisa minum, ya tidak apa-apa.

💡 Aturan teh oolong

Teh oolong di nomikai begitu standarnya sampai punya singkatan sendiri: ū-ron (ウーロン). Tidak ada yang mempertanyakan. Yang rekan kerjamu pedulikan bukan apa yang ada di gelasmu — tapi bahwa kamu ada di sana.


Saat Rekan Kerja Asing Datang

57% benar-benar senang — dan dengan alasan yang mungkin tidak kamu duga.

Kalau kamu pekerja asing di Jepang yang bertanya-tanya apakah kamu disambut di nomikai, jawabannya adalah ya, secara telak. Tapi kehangatannya bukan sekadar kesopanan — rekan kerja Jepangmu sering antusias karena alasan yang melampaui basa-basi profesional.

Dari 58 respons tentang rekan kerja asing di nomikai:

Senang — kesempatan bagus untuk terhubung
57%
Biasa — tidak ada perasaan khusus
24%
Khawatir soal kendala bahasa
19%

外国人の同僚が忘年会に来てくれた時、単純に嬉しかった。日本語がそこまで得意じゃないのにちゃんと参加してくれて、その気持ちだけでもう十分。 Waktu rekan kerja asing datang ke pesta akhir tahun, aku senang sekali. Bahasa Jepangnya belum lancar tapi tetap ikut — niat itu saja sudah cukup.

うちの会社のベトナム人の子、歓迎会で「カンパイ!」って覚えたての日本語で言ってくれて、みんな和んだ。 Rekan kerja dari Vietnam di kantor kami bilang "Kanpai!" pakai bahasa Jepang yang baru dipelajari di pesta penyambutan, semua orang langsung hangat.

飲み会で外国人の同僚と話すと、いつもの仕事モードとは違う一面が見えて面白い。 Ngobrol dengan rekan kerja asing di nomikai, kamu bisa melihat sisi mereka yang berbeda dari mode kerja. Menarik banget.

外国人のお客さんじゃなくて同僚だから、飲み会に来てくれると「仲間」って感じがして嬉しい。チームの一体感が出る。 Mereka bukan pelanggan asing — mereka rekan kerja. Kalau mereka datang ke nomikai, rasanya seperti "kita satu tim." Membangun kebersamaan.

19% yang mengungkapkan kekhawatiran bukan tidak menyambut — mereka cemas tentang kemampuan bahasa Inggris mereka sendiri. Ini mencerminkan apa yang kami temukan di Apakah Orang Jepang Ingin Bertemu Denganmu? — kesan dingin yang terlihat sering kali adalah kecemasan soal bahasa Inggris, bukan penolakan.

正直、英語が全然話せないから外国人の同僚と何を話せばいいか分からなくて困る。でも向こうが日本語頑張ってくれると距離が一気に縮まる。 Jujur, aku sama sekali tidak bisa bahasa Inggris jadi bingung mau ngobrol apa dengan rekan kerja asing. Tapi kalau mereka berusaha bicara bahasa Jepang, jaraknya langsung menyusut.

飲み会の席で外国人に英語で話しかけようとして撃沈した。でもお酒の力で恥ずかしさが薄れて、結局カタコト同士で盛り上がった。 Aku coba bicara bahasa Inggris ke rekan asing di nomikai dan gagal total. Tapi berkat kekuatan alkohol, rasa malu berkurang, dan akhirnya kami bersenang-senang dengan bahasa patah-patah dari kedua belah pihak.

Dan cerita ini menangkap keajaiban nomikai di saat terbaiknya:

うちのインド人の同僚、お酒飲まないけど飲み会には毎回来る。ウーロン茶飲みながらずっと笑ってて、場の雰囲気を明るくしてくれる。 Rekan kerja dari India di kantor kami tidak minum alkohol, tapi datang ke setiap nomikai. Duduk minum teh oolong, tertawa terus, mencerahkan suasana untuk semua orang.


Kekuatan dari Sekadar Hadir

Datang sekali — bahkan tanpa minum, bahkan hanya satu jam — membuat perbedaan nyata.

Di sinilah kebijaksanaan praktis berada. Kamu tidak harus hadir di setiap nomikai. Tidak harus minum. Tidak harus tinggal sampai selesai. Tapi ada celah yang berarti antara "tidak pernah datang" dan "pernah datang sekali."

Dari 58 respons tentang hadir versus selalu menolak:

Sekali sudah cukup — perbedaan besar
43%
Kinerja lebih penting dari kehadiran
35%
Tidak pernah datang mempengaruhi persepsi
22%
Catatan tentang 22%: suara-suara ini tidak mengancam hukuman — mereka menggambarkan realitas sosial yang halus. Di tempat kerja Jepang, tidak pernah hadir bisa menciptakan jarak yang halus yang mempengaruhi komunikasi informal, bukan evaluasi formal.

来てくれて、楽しもうとしてくれている時点で「ありがとう!」とさえ思いますよ。 Begitu seseorang datang dan berusaha menikmati, aku sudah berpikir "terima kasih!"

1人だけ来ない、のが嫌ですね。1人だけしゃべらない、は問題ない。 "Satu-satunya orang yang tidak datang" itu yang jadi masalah. "Satu-satunya orang yang tidak banyak bicara" itu tidak masalah.

Kutipan kedua itu kuncinya: kamu tidak perlu jadi bintang pesta. Kehadiran dalam diam lebih baik dari ketidakhadiran permanen.

Data menunjukkan pendekatan strategis: ada nomikai tertentu yang lebih penting dari yang lain.

Yang layak dihadiri:

  • Pesta penyambutan (kangei-kai): Pertemuan tim pertamamu yang paling berpengaruh
  • Pesta perpisahan (sōbetsu-kai): Hadir saat seseorang pergi menunjukkan kamu menghargai hubungan
  • Pesta akhir tahun (bōnenkai): Acara tahunan di mana kehadiran paling diperhatikan

Yang bisa dilewatkan tanpa khawatir:

  • Minum biasa Jumat malam
  • Ronde kedua (nijikai) — pulang setelah ronde pertama itu sepenuhnya normal
  • Ajakan santai "mau minum tidak?"

歓送迎会以外なら断っても良い。 Selain pesta penyambutan dan perpisahan, kamu boleh menolak.

飲みニケーションをリスペクトニケーションに変えるべき。 Kita harus mengubah "nomini-cation" (minum + komunikasi) menjadi "respecti-cation" (respek + komunikasi).

Konsep di balik kutipan terakhir itu persis apa yang sedang terjadi: fungsi nomikai sedang dipisahkan dari alkohol. Yang penting adalah menunjukkan rasa hormat terhadap hubungan — dan kamu bisa melakukannya dengan teh oolong, selama satu jam, sekali per kuartal.

💡 Nomikai minimal yang efektif

Datang ke pesta penyambutan dengan teh oolong. Tinggal satu jam. Bilang otsukare-sama deshita (kerja keras hari ini) saat pulang. Itu saja. Kamu sudah melewati garis dari "tidak pernah datang" menjadi "pernah hadir" — dan dalam budaya tempat kerja Jepang, garis itu lebih penting dari apa pun yang bisa kamu katakan atau minum di pesta itu sendiri.


Jurang Generasi

Perbedaan generasi soal nomikai itu nyata — tapi bukan seperti yang kamu bayangkan.

Narasi umumnya adalah "anak muda benci nomikai." Tapi data kami menceritakan kisah yang lebih bernuansa: pekerja muda tidak benci minum bersama — mereka benci dipaksa. Dan ini yang mengejutkan: beberapa survei menunjukkan bahwa pekerja usia 20-an justru punya keinginan berpartisipasi yang paling tinggi (68-70%), sementara yang usia 50-an paling enggan.

Perbedaan generasi itu wajar
28%
Ada jurang tapi bisa dikelola
38%
Gesekan nyata antar generasi
35%

"Fenomena terbalik" — di mana manajer terlalu takut mengajak (takut dituduh pelecehan) sementara pekerja muda justru ingin kesempatan membangun hubungan — menciptakan paradoks di mana kedua pihak ingin terhubung tapi tidak ada yang tahu cara memulai.

Yang ditolak pekerja muda bukan nomikai itu sendiri — tapi pertemuan tanpa tujuan, penuh hierarki, didominasi ceramah dan pamer. Saat formatnya berubah menjadi kelompok lebih kecil, acara lebih singkat, dan percakapan yang tulus, partisipasi melonjak.

Dan perubahan kosakata ini menceritakan kisahnya dengan sempurna: pekerja Jepang muda semakin menggunakan gohan-kai (ごはん会, "pertemuan makan") alih-alih nomikai (飲み会, "acara minum"). Tujuan sama, bingkai berbeda. Hubungan yang penting; alkohol tidak.


Apa Artinya Ini Untukmu

Baik kamu bekerja di Jepang jangka panjang atau bergabung dengan teman-teman Jepang untuk malam hari, ini pesan praktisnya:

Kamu bisa menolak. Data menunjukkan kebanyakan rekan kerja akan merasa lega, bukan tersinggung. Budaya tempat kerja Jepang sudah bergerak tegas menuju penghormatan waktu pribadi.

Tapi bilang ya sekali membuka pintu. Perbedaan antara "tidak pernah hadir" dan "pernah hadir sekali" itu besar secara tidak proporsional. Kalau hanya mau investasi waktu untuk satu nomikai, pilih pesta penyambutan atau pertemuan tim pertamamu.

Kamu tidak harus minum. Pesan teh oolong. Tidak ada yang mempertanyakan, dan beberapa rekan kerja justru terkesan karena kamu datang tanpa perlu alkohol sebagai alasan.

Kehadiranmu lebih penting dari kata-katamu. Kamu tidak perlu bahasa Jepang sempurna. Tidak perlu menghibur. Sekadar ada di sana, ikut tertawa, dan bilang kanpai sudah cukup untuk melewati garis dari "orang luar" menjadi "tim."

Pulang kapan saja. Menyelinap keluar setelah ronde pertama itu sepenuhnya normal — bahkan pekerja Jepang pun melakukannya. Bilang otsukare-sama deshita (kerja keras hari ini) dan pulang. Tidak ada yang akan mempermasalahkan.

Kalau penasaran apa yang bisa diharapkan di izakaya, Izakaya Pertamamu mencakup cara pesan, otoshi, dan budaya "toriaezu beer." Dan kalau kamu bertanya-tanya apakah restoran kecil yang akan kamu kunjungi membutuhkan pelanggan, Counter yang Semakin Sepi menceritakan kisah pemilik izakaya yang benar-benar bersyukur saat ada orang yang masuk.

Untuk lebih lanjut tentang bagaimana orang Jepang sebenarnya ingin terhubung denganmu — dan mengapa yang terlihat dingin seringkali hanyalah malu — artikel itu menunjukkan sisi lain tembok. Dan Mengapa Orang Jepang Memilih Aturan-Aturan Ini menjelaskan nilai-nilai budaya yang lebih dalam yang membuat dinamika sosial ini masuk akal.


Bagikan Pengalamanmu

Pernah ke nomikai? Kamu merasa tertekan, atau ternyata lebih santai dari yang dibayangkan? Kami ingin dengar ceritamu.

Voice Box →


Sumber

Data Survei

  • Tokyo Shoko Research (東京商工リサーチ): Survei pesta akhir tahun/tahun baru, 2019-2025. Tingkat pelaksanaan pesta perusahaan: 78,4% (2019) → 59,6% (2024) → 57,8% (2025). TSR Data Insight
  • Next Level / Mirai no Oshigoto (ミライのお仕事): Survei 2024 terhadap 831 pekerja. 64,5% memandang nominication tidak diperlukan. Alasan utama: tekanan sosial (61,8%), di luar jam kerja (47,4%), biaya (40,7%). PR Times
  • Persol Research Institute (パーソル総合研究所): Survei 2023. ~80% pekerja memandang tekanan kehadiran nomikai atau mengkritik non-peminum sebagai nomi-hara (pelecehan minum). Persol Research Institute
  • Nippon.com: "Nominication: Japan's Changing Culture of Company Drinking." Nippon.com
  • Japan Power Harassment Prevention Law (労働施策総合推進法): Berlaku untuk semua pemberi kerja sejak April 2022. Manajer bertanggung jawab secara pribadi atas perilaku memaksa termasuk tekanan minum. Ministry of Health, Labour and Welfare

Suara Orang Jepang (352 respons dari 6 topik)

Dikumpulkan dari situs tanya jawab, forum, dan kiriman media sosial publik berbahasa Jepang, beserta media bisnis (Diamond Online, Nikkei, ITmedia). Semua kutipan berasal dari platform publik berbahasa Jepang.

  • Situs tanya jawab, forum, dan kiriman media sosial publik berbahasa Jepang: opini langsung tentang menolak nomikai, pengalaman non-peminum, kehadiran dan evaluasi nomikai, tekanan minum di tempat kerja, dan rekan kerja asing
  • Media bisnis: survei dan analisis dari Diamond Online, Nikkei, ITmedia Business

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform online telah diedit ringan untuk keterbacaan (memperbaiki typo, memformat agar lebih jelas). Makna dan maksud setiap komentar tetap tidak berubah. Sumber asli ditautkan di atas.

How well do you know Japan?

Based on 19,217+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

この記事についてもっと聞きたいことがありますか?日本人に聞いてみます。

Voice Box →