Skip to content
WMJS
Vivid red and golden Japanese maple leaves in the Tenryu-ji temple garden beside its pond, with an autumn-colored mountainside behind, in Arashiyama, Kyoto
What Makes Japan SmileOleh Kei · Lahir dan besar di JepangDiperbarui 19 menit baca

Daun Musim Gugur di Jepang: Apa yang Sebenarnya Dirasakan Warga Lokal Saat Kamu Datang untuk Koyo

Yang akan kamu pelajari dari artikel ini:

  • Pendapat 242 orang Jepang tentang musim koyo (menikmati daun musim gugur): keramaian, foto, dan perasaan mereka saat kamu datang
  • Mengapa tempat-tempat terkenal begitu membludak, dan mengapa warga lokal pun ikut kewalahan
  • Cara sederhana menikmati warna-warni daun yang membuatmu disambut hangat di Jepang

Kalau kamu sedang membayangkan daun musim gugur Jepang tapi khawatir tempat-tempat terkenalnya akan penuh sesak sampai bikin stres, tarik napas dulu. Kamu akan baik-baik saja, dan banyak orang lain juga merasakan kekhawatiran yang sama.

Kami mengumpulkan 242 pendapat orang Jepang dari forum tanya-jawab, media sosial, blog perjalanan, hingga kolom komentar video tentang seperti apa musim koyo (menikmati daun musim gugur) di lapangan. Terus terang saja, keramaiannya memang ada, dan warga lokal pun lelah karenanya. Tapi sambutan hangat untuk pengunjung yang datang menikmati warna-warni daun bersama mereka juga sama nyatanya. Kalau kamu paham keduanya, kamu bisa menikmati musim ini jauh lebih leluasa.

Apakah orang Jepang keberatan kalau wisatawan datang untuk daun musim gugur? Kami membaca tulisan 242 orang Jepang, dan kebanyakan menyambutmu. Hanya sekitar seperempat yang benar-benar merasa lelah dengan banyaknya pengunjung, dan itu pun karena keramaian, bukan karena kamu. Warga lokal sama lelahnya dengan tempat-tempat terkenal, dan cara mereka menyiasatinya juga bisa kamu tiru: datang lebih awal.

Dari orang-orang yang menulis tentang keramaian, 51% mengatakan keramaian itu benar-benar membuat mereka lelah, termasuk warga lokal yang sama sekali tidak mau ke tempat-tempat terkenal. Mereka kesal karena orangnya terlalu banyak, bukan karena pengunjung asing. Bukan cuma kamu yang merasa kewalahan.

Panduan Singkat

Di tempat koyo Yang Dikatakan Orang Jepang
🟡 Perlu diketahui Keramaian Setengah dari pendapat tentang keramaian mengaku ikut lelah. Warga lokal biasanya memilih hari kerja, pagi-pagi, atau sudut yang lebih sepi di kawasan terkenal.
🟢 Santai saja Memotret Cara yang disukai orang adalah "satu jepretan, lalu menyingkir." Semua orang ingin memotret momiji merah yang sama, jadi orang yang mau bergantian akan dihargai.
🟢 Kamu disambut Datang sebagai pengunjung Kebanyakan senang kamu datang. Banyak yang merasa warna-warni daun paling indah kalau dinikmati bersama. Keluhan mereka sebenarnya soal pariwisata yang berlebihan, bukan soal kamu.
🟢 Kebaikan kecil Daun-daunnya sendiri Kagumi, jangan dipetik. Memungut selembar daun yang sudah jatuh tidak apa-apa, tapi orang akan sedih kalau kamu mematahkan ranting dari pohon yang masih hidup.

Satu hal yang perlu diingat: Orang Jepang jauh lebih ramah menyambut pengunjung musim gugur daripada kesan yang muncul dari foto-foto yang penuh sesak. Datanglah lebih awal, bergantianlah di tempat-tempat terbaik, biarkan pepohonan tetap utuh seperti saat kamu datang, dan kamu akan melihat sisi koyo yang jarang dibahas buku panduan.


Cara Kami Mengumpulkan Pendapat Ini

Kami mengumpulkan 242 pendapat berbahasa Jepang seputar lima pertanyaan tentang musim koyo: menyiasati keramaian (53), bergantian di tempat foto (51), perasaan warga lokal terhadap pengunjung yang datang untuk koyo (45), sopan santun kecil terhadap daun dan pohon (52), dan perbedaan sikap antargenerasi (41). Kami mengumpulkannya dari situs tanya-jawab berbahasa Jepang publik, forum, unggahan media sosial, blog perjalanan, dan kolom komentar video.

Catatan singkat: Ini bukan survei ilmiah yang terkontrol. Ini kumpulan tulisan orang Jepang sendiri di platform publik. Belum ada panduan musim gugur berbahasa Inggris yang merangkum pandangan orang Jepang sebanyak ini tentang rasanya musim ini di lapangan, dan menurut kami itu layak dibagikan.


Pengukur Suhu Perasaan

Sebelum berangkat ke Jepang di musim gugur, biasanya ada beberapa pertanyaan yang mengganjal: Apakah nanti cuma akan melihat lautan manusia? Bisakah aku memotret tanpa dianggap kurang sopan? Apakah warga lokal benar-benar mau aku datang? Mari kita lihat apa kata orang Jepang, dimulai dari hal yang paling sering dikhawatirkan.


🟡 Keramaian

Terus terang, tempat-tempat terkenal memang sangat padat. Tapi tenang saja, orang Jepang pun merasakan hal yang sama persis.

Dari 53 pendapat tentang keramaian musim gugur, setengahnya mengaku benar-benar lelah karenanya.

Pagi atau di luar jam sibuk, aman
25%
Memang bagian dari musimnya
24%
Keramaian bikin mereka lelah
51%
Arti batang merah ini: orang kesal karena jumlah orangnya terlalu banyak, bukan karena pengunjung asing. Wisatawan Jepang juga berdesakan di kereta yang sama, antre di halte bus yang sama, dan berjalan di jalan setapak kuil yang sama sempitnya. Mereka tidak kesal padamu, hanya lelah berdesak-desakan, sama seperti kamu.

Perasaan ini disebut berulang kali, dan anehnya justru menenangkan:

木々を見に行ったのか、人を見に行ったのかわからないときがありました。 Kadang aku tak bisa membedakan apakah aku datang untuk melihat pepohonan atau untuk melihat orang-orang.

紅葉トップシーズンの中、人人人人…にモミクチャにされながらも、一目通天橋から眺めようと朝から頑張ってきました。まぁある程度は覚悟の上ではありましたが、まさかここまでとは… Di puncak musim daun, terdorong-dorong dalam lautan manusia, manusia, manusia, aku memaksakan diri sejak pagi hanya untuk satu pandangan dari Jembatan Tsutenkyo. Aku sudah menyiapkan mental, tapi tak pernah kuduga akan separah ini.

Itu pemandangan di Jembatan Tsutenkyo, Tofuku-ji, kuil di Kyoto yang lembah maple-nya paling ramai dikunjungi sepanjang musim.

Warga lokal tidak sekadar mengeluh. Banyak yang memilih tidak pergi ke tempat-tempat terkenal sama sekali. Seseorang yang tinggal di dekat Gunung Takao, salah satu tujuan musim gugur tersibuk di pinggiran Tokyo, bercerita:

地元八王子では、激混みの高尾山は嫌と言って紅葉シーズンには行かない人が多い。わたしもその1人だった。 Di kampung halamanku, banyak orang bilang mereka benci betapa padatnya Gunung Takao dan tidak mau ke sana selama musim daun. Aku salah satunya.

Jadi kalau keramaiannya terasa berlebihan, kamu tidak salah apa-apa, dan banyak orang merasakan hal yang sama. Kabar baiknya, orang-orang yang tinggal di sini sudah lama punya cara untuk menyiasatinya.

Cara warga lokal sederhana saja: datang di hari kerja, tiba lebih awal (atau datang di satu jam terakhir sebelum iluminasi malam tutup), dan memilih sudut yang lebih sepi di kawasan terkenal, bukan titik yang paling sering difoto. Seseorang yang pernah ke Kyoto bercerita bahwa bahkan di puncak musim, jalan setapak di kuil yang agak tersembunyi terasa tenang dan indah, sementara gerbang utamanya kacau balau. Orang lain mendapati trem lokal ke Arashiyama nyaris kosong, padahal hari itu akhir pekan yang padat. Daunnya sama indahnya, tapi pengalamannya jauh berbeda. Beberapa malam musim gugur terindah justru ada jauh dari keramaian Kyoto. Misalnya, Taman Ritsurin di Takamatsu, taman jalan-jalan peninggalan para daimyo, menerangi pohon-pohon maple-nya hanya beberapa malam setiap November, di sudut Shikoku yang tenang dan jarang ramai. Lebih dekat ke Kyoto, cara yang sama juga berhasil di lembah pegunungan Kibune: orang yang pulang dengan puas adalah mereka yang datang untuk jalur jalan kaki dari Kurama ke Kibune dan menikmati daun yang mulai berganti warna, bukan untuk satu titik foto andalan. Saat lampu maple padam di penghujung musim, cara ini tetap berlaku di musim dingin. Artikel tentang iluminasi musim dingin merangkum pendapat orang Jepang soal keramaian, cuaca dingin, sebaiknya pergi dengan siapa, dan cara memotret lampu-lampunya.

Waktu kunjungan juga penting. Untuk gambaran bulan demi bulan kapan daun berubah warna dan kapan keramaian mereda, lihat waktu terbaik mengunjungi Jepang. Kalau ingin tahu mengapa begitu banyak orang menumpuk di tempat yang sama, baca apakah Jepang kelebihan turis? untuk gambaran yang lebih luas.

💡 Yang ingin disampaikan orang Jepang kepadamu

Setengah dari orang yang menulis tentang keramaian juga merasa lelah, dan sebagian sama sekali tidak mau ke tempat-tempat terkenal. Mereka kesal karena orangnya terlalu banyak, bukan karena kamu. Datanglah lebih awal, dan kamu akan melihat Jepang yang berbeda.

Pengunjung berdiri berdesakan bahu-membahu di sepanjang pagar Jembatan Tsutenkyo, koridor kayu beratap di atas lembah maple merah di Kyoto
Jembatan Tsutenkyo di Kyoto, penuh orang dari ujung ke ujung saat puncak musim daunPhoto by +- / CC BY-SA 3.0 / Wikimedia Commons

🟢 Tempat Foto

Semua orang ingin memotret momiji merah yang sama. Aturan tak tertulis yang dihargai semua orang: ambil fotomu, lalu menyingkir.

Dari 51 pendapat tentang bergantian di tempat foto, pesan yang paling sering muncul, dan juga paling hangat, adalah soal saling bergantian.

Satu jepretan, lalu menyingkir
41%
Tergantung / tunggu giliran
28%
Memonopoli tempat itu kurang sopan
31%
Siapa yang dimaksud batang merah ini: orang kesal pada mereka yang, sering kali dengan tripod besar, menempati tempat terbaik berlama-lama dan menghalangi semua orang. Kalau kamu memotret dengan ponsel atau kamera kecil, hampir pasti yang dimaksud bukan kamu. Yang perlu diingat cukup sederhana: satu jepretan, lalu beri tempat.

Para penggemar fotografi di Jepang menceritakan sebuah sopan santun tak tertulis yang indah, dan mudah diikuti:

三脚禁止になった人口の多い撮影現場では、数枚撮った後に交代、さらに撮りたい人は一番後ろに並んで再度待つ、という形になっています。こうすることで全員に平等に撮影するチャンスが訪れます。 Di tempat yang ramai, caranya begini: ambil beberapa bidikan, lalu bergantian; kalau ingin lebih, antrelah lagi dari belakang dan tunggu giliranmu. Dengan begini semua orang dapat kesempatan yang adil.

私は記念写真を撮っておられる方がいたら撮り終わるまで待ってあげるし、自分が撮っている時は「どうぞ通ってください」と譲ります。その方がお互い気持ちがいいし、構図をゆっくり考えられるので。 Kalau ada yang sedang berfoto, aku menunggu sampai orang itu selesai, dan saat aku yang memotret aku bilang "silakan, lewat saja." Rasanya lebih enak buat kami berdua.

Kebaikan seperti ini juga dirasakan dari dua sisi. Seorang penggemar fotografi teringat masa ketika ia masih pemula yang kebingungan, lalu seseorang yang tak dikenal mempersilakannya mengambil tempat:

途方に暮れていると、優しい方が「はやく撮らないといいシーンが逃げちゃうよ、ここに入っていいから」と声をかけてくれました。この親切丁寧な対応が、その後の自分の撮影中の行動に大きな影響を与えてくれました。 Saat aku berdiri kebingungan, seseorang yang baik hati berkata, "Cepat, nanti momennya hilang — masuk saja ke sini." Kebaikan itu mengubah caraku bersikap saat memotret sejak saat itu.

Menariknya, para penggemar fotografi di Jepang sadar betul bahwa "aturan" mereka bisa terlihat konyol bagi orang lain. Seperti tulis salah satu dari mereka, konsep "titik pemotretan" itu sebenarnya cuma logika para fotografer, dan pengunjung biasa yang hanya ingin menikmati daun tidak perlu memikirkannya sama sekali.

Jadi ambil saja fotomu di antara momiji yang merahnya luar biasa itu. Ambil satu jepretan, tersenyum, lalu mundur agar orang berikutnya bisa memotret juga. Sopan santunnya cukup sesederhana itu. (Untuk sopan santun umum saat memotret orang dan tempat di Jepang, lihat sopan santun memotret di tempat wisata.)


🟢 Bagaimana Perasaan Warga Lokal tentang Kedatanganmu

Penasaran apakah orang Jepang diam-diam berharap wisatawan berhenti datang untuk melihat daun musim gugur? Kebanyakan benar-benar senang kamu datang, dan banyak yang bilang warna-warninya terasa lebih indah kalau dinikmati bersama.

Dari 45 pendapat tentang pengunjung asing yang datang untuk koyo, isinya beragam: ada yang benar-benar senang, ada yang menerima dengan santai, dan ada juga yang perasaannya campur aduk.

Benar-benar senang kamu datang
33%
Berbagi pemandangan
40%
Campur aduk karena keramaian
27%
Arti batang merah ini: rasa campur aduk itu muncul karena pariwisata yang berlebihan (kereta yang sesak, harga yang naik, kota tercinta yang berubah), bukan karena kamu secara pribadi. Bahkan orang yang paling kesal pun tidak berkata "jangan datang." Mereka berkata "datanglah, dan luangkan sedikit waktu untuk mengenal kebiasaan di sini." Artinya, mereka tetap menyambutmu.

Ungkapan hangat seperti ini tidak sulit ditemukan, dan sering kali sangat spesifik:

外国人の方が前に黄色い紅葉はあるけど赤はないって日本の紅葉に感動してたな。 Suatu kali seorang pengunjung asing terharu oleh musim gugur Jepang , katanya di negaranya ada daun kuning, tapi tak ada yang merah seperti ini.

海外の富裕層様、来ていただいてほんとありがとう。楽しんでくれてるならいいです。 Para pengunjung dari luar negeri — terima kasih banyak sudah datang. Selama kalian menikmatinya, itulah yang penting.

Ada juga hal yang menarik: mendengar pengunjung takjub melihat momiji Jepang justru membuat warga lokal lebih menghargai musim gugur mereka sendiri. Seorang blogger bercerita bahwa setelah mendengar orang asing terpukau karena daunnya begitu "berwarna", ia baru sadar pemandangan itsu-mo-no (sehari-hari) di luar jendelanya ternyata istimewa:

海外の紅葉に触れたことのないワタシは、「イッツ カラフル」な紅葉は日本独特の光景らしいことを初めて知った。 Karena belum pernah melihat daun musim gugur di luar negeri, aku baru pertama kali tahu bahwa musim gugur kami yang "it's colorful" ini ternyata pemandangan yang khas Jepang.

Lalu bagaimana dengan pendapat yang lebih blak-blakan dan rumit? Itu pun layak didengar, karena isinya tidak seperti yang mungkin kamu takutkan. Yang dikeluhkan adalah desak-desakan, harga, dan kota yang kewalahan karena popularitasnya sendiri. Seseorang merangkum perasaan itu dengan tepat:

私自身も海外旅行が好きなので、もう日本に来ないで欲しいとは全く思いませんが、少なくともその国のマナーや習慣などを調べて訪れるべきかなぁと思っています。 Aku sendiri suka bepergian ke luar negeri, jadi aku sama sekali tidak berpikir "jangan datang ke Jepang" — aku hanya berpikir sebaiknya orang mencari tahu sopan santun dan kebiasaan negara itu sebelum berkunjung.

Di sinilah kedua pihak bertemu. Sambutannya tulus, dan yang mereka harapkan darimu sederhana saja: datanglah dengan sedikit rasa ingin tahu tentang kebiasaan di sini. (Kalau kamu ingin tahu daerah mana di Jepang yang paling hangat menyambut pengunjung, baca di mana kamu paling disambut.)

💡 Yang ingin disampaikan orang Jepang kepadamu

Sambutannya tulus. Keluhan mereka soal pariwisata yang berlebihan, bukan soal kamu, dan orang yang mengeluh pun tetap mempersilakanmu datang: datanglah, cukup bawa sedikit rasa ingin tahu tentang kebiasaan di sini.


🟢 Soal Daun dan Pohon

Kebaikan kecil yang diperhatikan warga lokal: kagumi daun-daunnya, jangan dipetik. Memegang selembar daun yang sudah jatuh di telapak tangan tidak apa-apa. Tapi mematahkannya dari pohon yang masih hidup akan membuat orang sedih.

Dari 52 pendapat tentang cara memperlakukan daun dan pohon, sebagian besar bernada lembut: cukup lihat, dan biarkan apa adanya.

Kagumi saja, jangan disentuh
71%
Daun yang sudah jatuh? Boleh kok
17%
Mematahkan ranting bikin kami sedih
12%

Nadanya lembut, bukan menegur. Orang tidak bilang "jangan", tapi "nikmati saja dengan mata":

紅葉している木の枝を折ったり、葉をちぎりとって自然の木々を傷つけてはいけないというのは当然のこと。どれだけきれいでも、目で見て楽しもう。 Tentu saja kamu tidak boleh mematahkan ranting atau merobek daun dan menyakiti pepohonan. Seindah apa pun, nikmatilah dengan matamu.

Kabar gembiranya: memungut daun yang sudah jatuh bukan hanya boleh, tapi juga kebiasaan kecil yang disukai banyak orang. Ada yang menyelipkannya di antara halaman buku, ada yang mengangkatnya ke arah cahaya, lalu menyimpannya sepanjang tahun:

ドライブに出かけた先々で「あ、綺麗だな」と思った落ち葉。そっと拾って、長く保存できる押し葉にしては? Daun jatuh yang membuatmu berpikir "oh, cantiknya" itu — kenapa tidak kamu pungut perlahan dan kamu pres untuk disimpan?

枯れ葉を通過した太陽の光によって美しい葉脈をはっきりと見ることができ、うれしくなって何枚も何枚も太陽にかざし、美しい葉脈を見ながら写真を撮りました。 Lewat selembar daun kering, sinar matahari memperlihatkan urat-uratnya begitu indah hingga, dengan gembira, aku mengangkat daun demi daun ke arah matahari dan memotretnya.

Cara orang membicarakan daun terdengar begitu lembut, dan dari situ kita bisa memahami banyak hal tentang budaya Jepang. Seorang pemilik penginapan menulis tentang dahan besar pohon momiji di halamannya yang patah. Ia tidak kesal, tapi sedih seperti kehilangan sesuatu yang dekat, karena ia sudah menyayangi dahan itu sejak daunnya masih hijau di musim semi. Perasaan bahwa selembar daun yang jatuh pun bisa membuat hati sedikit sedih, itulah intinya.

Sikap ini juga punya dasar resmi. Kementerian Lingkungan Hidup Jepang meminta pengunjung taman nasional untuk tidak mengambil tanaman atau membawa pulang apa pun, agar orang yang datang sesudahmu bisa menikmati pemandangan yang sama. Di kawasan yang paling dilindungi, memetik tanaman memang dibatasi undang-undang. Tapi biasanya kamu tidak perlu memikirkan aturan: begitu merasakan betapa berartinya warna-warni ini bagi orang-orang di sekitarmu, kamu akan dengan sendirinya membiarkannya tetap utuh. (Banyak tempat terindah adalah kuil dan jinja. Untuk sopan santun saat berkunjung ke sana, lihat mengunjungi kuil dan jinja.)

💬 What do you think?

Japanese readers: How do you feel about this?Visitors: Have you experienced this in Japan?

Share your voice →
Daun maple dan ginkgo yang gugur menutupi lantai hutan di antara bercak sinar matahari, dengan batang-batang pohon di belakang
Daun maple dan ginkgo yang gugur di tanah, jenis daun yang dipungut orang lalu dipipihkan di dalam bukuPhoto by Reggaeman / CC BY-SA 3.0 / Wikimedia Commons

Kejutan Antargenerasi

Di Jepang maupun di luar negeri, banyak yang beranggapan bahwa anak muda yang sibuk dengan ponselnya-lah yang berperilaku buruk di tempat wisata, sementara generasi yang lebih tua menikmati pemandangan dengan tenang. Namun saat kami melihat apa kata orang Jepang dari berbagai usia tentang koyo, hasilnya justru sebaliknya.

Pertama, suka menikmati pemandangan sama sekali bukan urusan "orang tua." Banyak anak muda membantah stereotip itu:

年取ると花とか紅葉好きって言ってますが、小学生の時から好きだったんだよな。 Orang bilang kamu mulai menyukai bunga dan daun musim gugur setelah bertambah tua, tapi aku sudah mencintainya sejak SD.

綺麗なものを見ると誰もが嬉しい気持ちになります。これは当たり前のこと。…桜や紅葉が好きと言うことは何も年寄りではない、人間としての本来の姿。 Semua orang merasa senang melihat sesuatu yang indah — itu wajar saja. … Mencintai bunga sakura atau daun musim gugur sama sekali bukan urusan orang tua; itu cuma soal menjadi manusia.

Soal topik sensitif sopan santun memotret, pendapat-pendapatnya benar-benar mengejutkan. Di sebuah utas, seseorang menegur "anak muda" karena kurang sopan saat memotret, tapi hampir semua yang membalas tidak setuju. Banyak yang bilang orang paling memaksa yang pernah mereka lihat justru fotografer yang lebih tua, bukan yang muda:

ただ若者だけではありません。最近は猫も杓子もカメラを持つ時代です。私の周囲では若者よりお年を召した方のほうが多いですよ。いずれにせよマナーを守り周りを気遣う人の方が多いです。 Bukan cuma anak muda. Sekarang ini zaman di mana semua orang punya kamera. Di sekitarku, aku lebih sering melihat orang yang lebih tua melakukannya ketimbang yang muda. Bagaimanapun juga, orang yang menjaga sopan santun tetap mayoritas.

Pendapat yang paling bijak sampai pada kesimpulan yang sama: dari awal ini memang bukan soal usia.

若者とか年寄りという括りじゃなくて、マナーのなってない家庭で育った人が全世代に居るだけじゃないですか?若いころ桜の枝を引っ張ってた人が年を取って人を押しのけたりするだけ。 Ini bukan soal muda lawan tua — bukankah cuma soal ada orang yang dibesarkan tanpa sopan santun di setiap generasi? Orang yang menarik-narik ranting sakura saat muda akan tumbuh menjadi orang yang menyikut orang lain.

Jadi kamu bisa lega: tidak perlu khawatir kamu termasuk "tipe" wisatawan yang mana. Di generasi mana pun, orang Jepang menghargai mereka yang mau sedikit memperhatikan orang di sekitarnya. Itu saja.

💡 Yang membalik stereotipnya

Anggapan bahwa anak mudalah yang berperilaku buruk di tempat wisata ternyata tidak terbukti. Orang Jepang mengatakannya berulang kali: ini bukan soal usia, tapi soal apakah seseorang memperhatikan orang di sekitarnya.


Mengapa Orang Jepang Begitu Mencintai Daun Musim Gugur

Untuk memahami mengapa musim gugur begitu bermakna di Jepang, ada baiknya kamu tahu bahwa koyo-gari (secara harfiah "berburu daun musim gugur") bukanlah tren wisata baru. Kebiasaan ini sudah ada sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Menurut Japan National Tourism Organization, kebiasaan ini bermula di kalangan bangsawan istana periode Heian di Kyoto pada abad ke-8. Karena di taman mereka sendiri tidak ada pohon yang daunnya berubah warna, para bangsawan ini pergi ke pegunungan untuk menikmati daun, lalu menggubah musik dan puisi berlatar warna-warni itu. Rujukan tentangnya muncul dalam antologi puisi Kokin Wakashū dan Hikayat Genji. Pada pertengahan abad ke-18, hiburan kaum elite ini menyebar ke masyarakat biasa dan menjadi tradisi musiman seperti sekarang.

Di balik kebiasaan ini ada perasaan yang lebih dalam, yang oleh orang Jepang disebut mono no aware: rasa sayang yang lembut dan sendu terhadap segala sesuatu justru karena semuanya tidak abadi. Daun musim gugur menggambarkannya dengan sempurna: saat warnanya paling cemerlang, daun-daun itu sudah mulai berguguran. Mencintai koyo sebagian berarti mencintai saat-saat menjelang akhirnya. Itulah sebabnya selembar daun yang jatuh bisa menyentuh hati sama kuatnya dengan satu lereng bukit yang merah menyala.

Di balik puisinya, ada juga penjelasan ilmiah yang menarik. Daun berubah warna terutama karena suhu: perubahannya mulai ketika suhu terendah harian turun di bawah sekitar 8°C dan warnanya makin pekat di kisaran 5–6°C, apalagi kalau selisih suhu siang dan malam besar dan sinar matahari melimpah. Saat suhu turun, klorofil hijau di dalam daun terurai, pigmen merah (antosianin) baru terbentuk, dan warna kuning (karotenoid) jadi terlihat. Karena itu satu pohon momiji bisa berwarna merah tua, kuning kecokelatan, dan keemasan sekaligus. Badan Meteorologi Jepang bahkan mencatat "hari momiji berubah warna" di stasiun pengamatan di seluruh negeri, dan catatan ini menjadi dasar untuk memantau garis depan koyo yang bergerak melintasi Jepang setiap musim gugur. Di gunung suci seperti lereng Yoshino, kamu bisa melihat warna itu perlahan turun dari puncak ke kaki gunung, hari demi hari.

Jepang juga sangat kaya akan jenis momiji: menurut Forestry and Forest Products Research Institute (lembaga riset kehutanan Jepang), ada sekitar 26 spesies asli. Asia adalah pusat keanekaragaman maple dunia: kira-kira 80% dari semua spesies maple berasal dari Asia, dan genus ini diyakini muncul dan berkembang di sana sebelum menyebar ke Eropa dan Amerika Utara. Keragaman inilah salah satu alasan satu lereng bukit di Jepang bisa memiliki begitu banyak gradasi warna sekaligus.


Jadi Bagaimana Caranya Menikmati Musim Gugur Terbaik di Jepang?

Kalau dirangkum, caranya sederhana saja:

  • Datang lebih awal, atau pilih sudut yang lebih sepi. Di pagi hari kerja dan di sudut-sudut kawasan terkenal yang lebih sepi, kamu tetap bisa menikmati warna-warni daun tanpa berdesakan. Warga lokal pun melakukan hal yang sama.
  • Ambil fotomu, lalu gantian. Satu foto momiji merah itu, senyum, lalu mundur selangkah. Hanya itu sopan santunnya.
  • Biarkan daun tetap di pohonnya. Nikmati saja selagi masih di dahan. Kalau ada daun jatuh yang menarik perhatianmu, pungut dan selipkan di antara halaman buku. Itu kesenangan kecil yang boleh kamu nikmati.
  • Datang dengan sedikit rasa ingin tahu. Warga lokal yang paling lelah pun hanya berharap kamu sedikit peduli pada kebiasaan di sini. Dan kamu sudah menunjukkannya dengan membaca sampai sejauh ini.

Dengan begitu, kamu tidak hanya melihat musim gugur Jepang, tapi juga merasakan kelembutan yang sudah ada sejak seribu tahun lalu di baliknya. Dan kamu akan menjadi tamu yang dengan senang hati disambut orang Jepang.

Masih bingung mau menghabiskan satu hari musim gugur di mana? Kami juga sudah merangkum pendapat orang Jepang tentang dua tempat tersibuk di musim ini: Kiyomizu-dera dan Nikko.


Bagikan Pengalamanmu

Pernahkah kamu berdiri di bawah momiji yang merah menyala di Jepang, atau sedang merencanakannya? Ceritakan kepada kami, ya. Ceritamu bisa kami tambahkan ke artikel ini sebagai sudut pandang baru, supaya pembaca dari berbagai budaya bisa saling memahami.

Bagikan pengalamanmu di Voice Box →


Lebih Banyak Perspektif Orang Jepang

Penasaran dengan hal lain seputar perjalanan ke Jepang? Artikel-artikel berikut merangkum pendapat orang Jepang dari ratusan komentar asli.


Sumber

Data Riset Primer

Data riset WMJS tentang daun musim gugur (koyo): 242 pendapat berbahasa Jepang, dikumpulkan Juni 2026:

  • Menyiasati keramaian: 53 pendapat
  • Bergantian di tempat foto: 51 pendapat
  • Perasaan warga lokal terhadap pengunjung: 45 pendapat
  • Sopan santun terhadap daun dan pohon: 52 pendapat
  • Sikap antargenerasi: 41 pendapat

Sumber Faktual (Tier 1–2)

Sumber Pengumpulan Pendapat

Berikut tempat-tempat orang Jepang menyampaikan pandangan mereka tentang musim koyo. Tempat-tempat ini tidak dikutip sebagai sumber fakta, melainkan sebagai sumber pendapat langsung.

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform daring telah disunting seperlunya demi keterbacaan (memperbaiki salah ketik, merapikan format agar lebih jelas). Makna dan maksud dari setiap komentar tetap tidak berubah. Sumber aslinya ditautkan di atas.

WMJS ditulis di Jepang oleh seorang Jepang yang ingin Anda mengenal Jepang sedikit lebih dekat, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan bantuan AI. Setiap halaman kami periksa, tetapi Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu kami. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, beri tahu kami. Satu kalimat saja cukup.

How well do you know Japan?

Based on 51,218+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

Punya pertanyaan lanjutan tentang topik ini? Kami akan menanyakannya kepada orang Jepang.

Voice Box →