Skip to content
WMJS
Ziarah Anime dan Orang-Orang yang Tinggal di Sana
Cara Jepang Bekerja Oleh Kei · Lahir dan besar di Jepang Diperbarui 17 menit baca

Ziarah Anime dan Orang-Orang yang Tinggal di Sana

Ada sebuah kota kecil di tepi laut di Ibaraki, tempat pemilik toko lanjut usia menyambut pengunjung dengan okaeri — "selamat datang kembali ke rumah." Sebagian besar pengunjung itu datang karena sebuah kartun tentang siswi SMA yang mengendarai tank. Tak satu pun warga memilih untuk hidup di dalam sebuah cerita. Namun entah bagaimana, cerita itu justru membuat kota itu balas mencintai para pengunjungnya.

Inilah sisi ziarah anime — seichi junrei, "ziarah ke situs suci" — yang tak pernah dijelaskan oleh daftar tempat foto. Kamu bisa menemukan ratusan panduan yang memberitahumu di mana lokasi dunia nyatanya. Hampir tak ada yang memberitahumu bagaimana perasaan orang-orang yang benar-benar tinggal di sana ketika para penggemar muncul di jalan depan rumah mereka, di kuil mereka, di depan usaha keluarga mereka.

Maka kami pun mencari suara-suara itu. Dan jawabannya lebih hangat daripada yang kamu bayangkan.

Poin-Poin Utama:

  • Kota-kota yang menjadi terkenal berkat anime — Oarai (Girls und Panzer), Washinomiya (Lucky Star), Numazu (Love Live! Sunshine!!) — sering kali justru dihidupkan kembali oleh penggemar, bukannya terbebani
  • Pengunjung Tahun Baru ke Kuil Washinomiya melonjak dari 90.000 menjadi 470.000 setelah anime tayang; festival kota Oarai tumbuh dari sekitar 65.000 menjadi 135.000
  • Dari 48 suara warga dan penduduk lokal yang kami kumpulkan, sekitar 83% menyambut penggemar — dan kelompok minoritas yang waspada mengkhawatirkan sopan santun, bukan keberadaan penggemar itu sendiri
  • Gesekan yang memang terjadi (perlintasan kereta terkenal di Kamakura, sebuah rumah pribadi di Chichibu) hampir selalu tentang perilaku tertentu — menghalangi lalu lintas, masuk tanpa izin, keributan — bukan tentang penggemar yang datang sama sekali
  • Satu hal yang menentukan segalanya: apakah kamu memperlakukan tempat itu sebagai kota yang dihuni atau sebagai set film

Bagaimana perasaan kota-kota Jepang tentang penggemar anime yang berkunjung? Kami mengumpulkan suara dari warga tempat-tempat yang terkenal berkat anime, dan jawabannya benar-benar hangat. Kota seperti Oarai dan Washinomiya dihidupkan kembali oleh penggemar — kini pemilik toko memanggil pelanggan tetap dengan namanya. Gesekan yang ada hampir seluruhnya tentang perilaku tertentu, bukan tentang penggemar yang datang. Perlakukan kota sebagai tempat orang tinggal, maka kamu disambut.

Pengunjung Tahun Baru ke Kuil Washinomiya naik dari 90.000 menjadi 470.000 hanya gara-gara satu anime. Festival kota Oarai tumbuh menjadi sekitar 135.000.

Kota-kota ini tidak kewalahan oleh penggemar. Mereka dihidupkan kembali olehnya.


Panduan Singkat

Yang sedang kamu lakukan Bagaimana warga lokal cenderung merasa
🟢 Disambut Berkunjung, membeli sesuatu, menyapa, memperlakukan tempat itu sebagai kota "Pulanglah lagi ke sini." Di Oarai, Numazu, dan Washinomiya, pemilik toko hafal wajah penggemar, ingat pelanggan tetap, dan sungguh-sungguh menanti pertemuan dengan mereka. Kunjunganmu membantu sebuah kota kecil tetap hidup.
🟡 Tergantung Datang dalam rombongan besar yang heboh, berlama-lama di gang permukiman yang tenang Kebanyakan orang tidak keberatan kamu datang — tetapi jalan sempit yang penuh pengunjung yang berjalan lambat dan berisik melelahkan orang-orang yang tinggal di sana. Rombongan lebih kecil, suara lebih pelan.
🔴 Batasnya Berdiri di tengah jalan untuk merekam, menginjak tanah pribadi, datang malam hari, membuang sampah Di sinilah kehangatan berubah menjadi keletihan — bukan karena kamu penggemar, melainkan karena sebuah rumah, perlintasan kereta, atau kuil yang masih beroperasi diperlakukan seperti latar panggung.

Satu hal yang perlu diingat: Hampir tak ada orang di kota-kota ini yang berharap penggemar tidak datang. Yang mereka minta hanya hal kecil — agar kamu ingat ada orang sungguhan yang hidup, bekerja, tidur, dan menyeberang jalan di sini. Perlakukan sebagai kota, maka kota akan memperlakukanmu sebagai tamu.


Sebuah Tempat yang Menjadi Tujuan Berkat Sebuah Cerita

Sebagian besar tujuan wisata meraih ketenaran perlahan-lahan — sebuah kastel termasyhur, kuil berusia seribu tahun, keajaiban alam. Ziarah anime bekerja secara berbeda. Sebuah kota bisa menjadi tujuan dalam semalam, demi alasan yang tak pernah diminta warganya: sebuah studio memilih jalan biasa mereka sebagai latar belakang sebuah cerita, dan tiba-tiba dunia ingin berdiri di tempat yang pernah didiami tokoh fiksi.

Ini bukan lagi sekadar hobi kelompok kecil. Asosiasi Pariwisata Anime Jepang — yang didirikan pada 2016 — menyelenggarakan pemungutan suara penggemar tahunan untuk "situs ziarah anime yang paling ingin kamu kunjungi." Edisi 2026 menarik sekitar 85.000 suara dari 110 negara dan wilayah, dengan sekitar sepertiga pemilihnya tinggal di luar negeri. Platform perjalanan Trip.com Group melaporkan lonjakan 195% dari tahun ke tahun dalam pencarian perjalanan terkait anime dan komik di seluruh Asia, serta lonjakan 697% dalam penjualan tiket internasional untuk AnimeJapan 2026, dengan peserta dari 82 negara. Dan survei pariwisata pemerintah Jepang sendiri menemukan bahwa 8,1% pengunjung mancanegara sudah mengunjungi lokasi film atau anime dalam perjalanan mereka, dengan tambahan 11,8% yang mengatakan ingin melakukannya lain kali.

Dengan kata lain: porsi pengunjung yang kian besar tiba di kampung halaman seseorang sambil memegang tangkapan layar. Hal ini memunculkan pertanyaan yang menjadi alasan keberadaan artikel ini — lalu bagaimana perasaan para "seseorang" itu tentangnya?

Catatan tentang apa yang sedang kamu baca: Ini bukan survei ilmiah. Ini adalah kumpulan dari apa yang dikatakan warga, pemilik toko, dan penduduk lokal Jepang dengan kata-kata mereka sendiri — dalam wawancara resmi, dalam laporan dewan kota, dan di forum publik — ditambah fakta terdokumentasi tentang apa yang terjadi pada kota-kota ini. Beberapa suara penuh rasa syukur. Beberapa terasa letih. Justru perpaduan itulah intinya.


Suhu Perasaan: Kota-Kota Ini Senang Kamu Datang

Kami mengumpulkan suara dari warga, pemilik toko, dan penduduk lokal kota-kota yang terkenal berkat anime, beserta komentar publik tentang ziarah. Dari 48 suara, inilah pembagiannya:

Menyambut / bersyukur
83%
Tergantung sopan santun
13%
Berharap mereka tidak datang
4%
Siapa pemilik suara-suara ini: suara-suara yang menyambut sebagian besar berasal dari warga dan pemilik toko di kota-kota yang dihidupkan kembali melalui komunitas penggemar — Oarai, Numazu, Washinomiya — yang berbicara secara resmi dalam wawancara dan laporan kota. Suara-suara yang waspada berasal dari forum tanya jawab publik, sering kali dari orang yang membayangkan bagaimana perasaan warga, bukan warga itu sendiri. Ini adalah kumpulan suara, bukan jajak pendapat.

Kehangatan dalam wawancara warga sungguh mencolok. Di Oarai — kota Girls und Panzer — seorang pemilik toko tahu menggambarkan apa arti para penggemar baginya:

ウチに来る人は地元のお土産を持ってきてくれて、『お母さん、いつも買い物できなくてすいません』って言うんですよ Orang-orang yang datang ke toko saya membawakan oleh-oleh dari kampung halaman mereka, lalu berkata, "Bu, maaf ya saya tidak bisa lebih sering belanja ke sini." — Pemilik toko tahu di Oarai

なんか自分の息子よりファンの人の顔を見ている方が多いですね Sejujurnya, saya lebih sering melihat wajah para penggemar daripada wajah anak laki-laki saya sendiri. — Pemilik toko tahu di Oarai

Seorang tukang cukur setempat menggambarkan perubahan itu bahkan lebih gamblang — termasuk bagian ketika para skeptis berbalik hati:

私の古い知り合いには『ガルパン』をすぐには受け入れられない店主もいたのですが、今は『ファンとだけ商売したいぐらいだ』と話しているのを耳にしています Beberapa pemilik toko yang sudah lama saya kenal awalnya tidak bisa menerima anime itu. Sekarang saya dengar mereka berkata mereka rela kalau pun harus berdagang dengan para penggemar saja. — Tukang cukur di Oarai

Ini bukan keunikan satu kota saja. Di Numazu, kota tepi laut di balik Love Live! Sunshine!!, seorang pemilik toko yang membantu menggalang jalan perbelanjaannya untuk menyambut penggemar berkata sederhana:

『ラブライブ!サンシャイン!!』のファンはとってもいい子が多いんですよ。悪いところが見当たらないくらい Penggemar Love Live! Sunshine!! itu anak-anak yang sangat baik. Saya nyaris tak bisa menemukan satu hal buruk pun untuk dikatakan. — Pemilik toko di Numazu

思えば、私の40~50代は『ラブライブ!サンシャイン‼』のおかげで充実したものになったと感じます。本当に感謝しています Kalau saya renungkan, usia empat puluhan dan lima puluhan saya terasa berlimpah berkat Love Live! Sunshine!! Saya sungguh bersyukur. — Pemilik toko di Numazu

💡 Menyambut, bukan sekadar menahan diri

Yang mengejutkan bukanlah bahwa kota-kota ini menoleransi penggemar. Melainkan banyak warga menggambarkan penggemar sebagai anugerah — orang-orang yang menghidupkan kembali jalan perbelanjaan yang sekarat, yang terasa seperti keluarga, yang pertemuannya benar-benar mereka nantikan. Kehangatan itu mengalir dua arah.


Mengapa Sebuah Kartun Bisa Menyelamatkan Sebuah Kota

Untuk memahami sambutan ini, ada baiknya memahami apa yang dihadapi kota-kota ini sebelum para penggemar datang.

Oarai adalah kota pelabuhan kecil berpenduduk sekitar 17.000 jiwa. Ketika Girls und Panzer tayang pada 2012, kota itu masih terhuyung — gempa dan tsunami 2011 telah menghantam pesisirnya, dan kecelakaan Fukushima di dekatnya membuat wisatawan ketakutan menjauh, dengan kerusakan reputasi yang berlarut bertahun-tahun. Jalan perbelanjaannya menjadi sepi. Lalu penggemar anime pertempuran tank mulai berdatangan, dan kamar dagang setempat menyambutnya dengan sepenuh hati.

Festival Ikan Sungut Ganda tahunan kota itu menceritakan kisahnya lewat angka. Dengan kolaborasi pertama bersama Girls und Panzer, jumlah pengunjung hampir berlipat dua menjadi sekitar 65.000 pada 2012, mencapai rekor 100.000 pada 2013, dan menyentuh sekitar 135.000 pada 2018. Yang menarik, kota itu menyatakan dengan sengaja tidak menghitung angka "dampak ekonomi" untuk dijadikan tajuk — sebab tujuannya tak pernah berupa angka di lembar kerja.

Washinomiya, di utara Tokyo, menunjukkan pola yang sama bahkan lebih dramatis. Sebelum Lucky Star, kuil setempat menarik sekitar 90.000 pengunjung selama tiga hari Tahun Baru. Setelah anime itu, angka tersebut melonjak menjadi 300.000 pada tahun berikutnya dan memuncak sekitar 470.000. Pada 2008, kota itu bahkan menerbitkan "sertifikat warga khusus" resmi untuk tokoh-tokoh anime tersebut. Kamar dagang setempat tidak melawan fenomena ini — mereka justru berorganisasi di sekelilingnya.

Apa yang membuat tempat-tempat ini berhasil — sementara kota lain mencoba hal serupa dan gagal — bermuara pada beberapa hal manusiawi, bukan anggaran pemasaran. Seorang warga Oarai yang menyaksikannya terjadi menggambarkan titik baliknya:

きっかけはガルパンだったかもしれませんが、みなさん何度か通ううちにアニメのファンからまちのファンになっていきました Pemicunya mungkin memang anime, tetapi seiring orang-orang terus kembali, mereka berubah dari penggemar anime menjadi penggemar kotanya. — Warga Oarai

Seorang pejabat kota mengungkap rahasianya dengan blak-blakan — dan itu tak ada kaitannya dengan anime:

商店街の強みってコミュニケーション力だと思うんです Saya pikir kekuatan sejati sebuah jalan perbelanjaan adalah kemampuannya untuk menjalin hubungan dengan orang. — Pejabat kota Oarai

Dan yang terpenting, sambutan itu bersyarat — diraih lewat cara penggemar berperilaku. Tukang cukur yang sama, yang menggambarkan para pemilik toko berbalik hati, menjelaskan alasannya:

『ガルパン』関係のイベントは終了後もゴミがまったく落ちていないんですよ。そのようにマナーの良いお客さんだからこそ我々も快く受け入れることができ、現在のような良い関係へと繋がった Setelah acara-acara anime itu, tak ada satu pun sampah yang tertinggal. Justru karena tamunya bersopan santun seperti itulah kami bisa menyambut mereka dengan senang hati — dan itulah yang tumbuh menjadi hubungan baik yang kami miliki sekarang. — Tukang cukur di Oarai

💡 Mesinnya bukan anime — melainkan timbal balik

Sebuah anime terkenal bisa menempatkan kota di peta. Namun yang membuat orang terus kembali, dan yang mengubah kewaspadaan kota menjadi kehangatan, adalah sebuah lingkaran: penggemar berperilaku layaknya tamu yang tahu berterima kasih, warga membalas dengan keramahan yang tulus, dan penggemar kembali sebagai sesuatu yang lebih dekat dengan keluarga. Anime membuka pintunya. Sopan santun dan timbal baliklah yang melangkah masuk.


Batasnya: Ini Soal Perilaku, Bukan Kunjungannya

Jika sambutannya begitu hangat, dari mana datangnya berita-berita kepala soal kelebihan wisatawan? Inilah hal terpenting untuk dipahami sebelum kamu pergi — dan datanya luar biasa jelas tentang itu.

Kami mengumpulkan suara secara khusus tentang gesekan dalam ziarah. Inilah yang sebenarnya dikeluhkan oleh para warga dan penduduk lokal itu:

Perilaku tertentu, bukan kunjungannya
90%
Jumlah orang yang teramat banyak
10%
Penggemar yang datang sama sekali
0%
Pengukur ini merinci apa yang menjadi sasaran keluhan, di antara suara-suara yang menggambarkan gesekan. Hampir tak ada yang keberatan pada penggemar yang berkunjung — keluhannya tentang tindakan tertentu (berdiri di tengah jalan, menginjak tanah pribadi, keributan, sampah) atau, sesekali, jumlah orang yang membludak. Batang merah yang kosong itulah seluruh intinya.

Titik gesekan paling terkenal adalah perlintasan kereta Kamakura-Kōkō-Mae, perlintasan sebidang di tepi laut yang menjadi ikonik berkat Slam Dunk. Kota menempatkan petugas pengaman di sana dan meminta pengunjung menjaga sopan santun; pada satu masa puncak, jumlah petugas naik dari dua menjadi tujuh orang. Tetapi simaklah apa yang sebenarnya dikeluhkan seorang warga:

観光客が線路内に侵入したり、道路のど真ん中で撮影したりしていて危ないと思ったことが何度もあります。単純に、交通の妨げになるのは生活するうえで迷惑なのですが Sudah berkali-kali saya merasa itu berbahaya — wisatawan masuk ke dalam rel, memotret tepat di tengah jalan. Sederhananya, menghalangi lalu lintas membuat kehidupan sehari-hari jadi sulit. — Seorang warga Kamakura

Keluhannya bukan "penggemar datang." Melainkan "orang berdiri di tengah jalan." Pembedaan itu mengalir di hampir setiap kisah gesekan yang kami temukan. Seorang warga Shimokitazawa — kawasan Tokyo yang tampil dalam Bocchi the Rock! — menarik garisnya dengan tepat:

『来ないでくれ』とは言いませんが、住宅地なのに観光地に遊びに行くような感覚はやめてほしいです Saya tidak akan berkata "jangan datang." Tapi ini kawasan permukiman — tolong berhenti memperlakukannya seperti objek wisata tempat kamu datang untuk bermain. — Seorang warga Shimokitazawa

Kalimat tunggal itu mungkin hal paling berguna di seluruh artikel ini. Saya tidak akan berkata jangan datang — sambutannya nyata. Tapi jangan perlakukan rumah saya seperti taman bermain — itulah seluruh permintaannya. Bahkan orang-orang di forum anonim, yang tak punya kepentingan apa pun atas pariwisata kota mana pun, terus sampai pada kesimpulan yang sama:

聖地巡礼かどうかは全く問題ではなく、その人の倫理観、常識に問題があるのだと思います Apakah itu ziarah anime atau bukan sama sekali tidak relevan — masalahnya ada pada etika dan akal sehat orang itu sendiri.

Versi paling tajam dari garis batas ini muncul ketika sebuah "lokasi" sebenarnya adalah rumah seseorang. Di Chichibu, model untuk sebuah gerbang kuil dalam sebuah film ternyata berdiri di atas tanah keluarga pribadi. Permintaan sang pemilik rumah nyaris lembut:

ただ、家には入らないでってだけなんです Hanya — tolong jangan masuk ke rumah saya. Itu saja. — Seorang pemilik rumah di Chichibu

Dan sutradara In This Corner of the World meminta penggemar menjauhi satu kawasan permukiman bergang sempit dengan kalimat yang merangkum seluruh prinsipnya:

現地にはコンビニも商店もなく借りられるトイレもありません。そこは観光地ではないのです Di sana tak ada toko swalayan, tak ada toko, tak ada toilet yang bisa kamu pinjam. Tempat itu bukan tujuan wisata. — Sutradara film

💡 Hampir tak ada yang berkata "jangan datang"

Inilah temuan yang seharusnya mengubah cara kamu bepergian. Di seluruh suara gesekan yang kami kumpulkan, keberatannya nyaris tak pernah pada penggemar yang berkunjung. Melainkan pada segelintir perilaku — berdiri di rel, melangkah ke tanah pribadi, datang malam hari, meninggalkan sampah — yang memperlakukan tempat yang dihuni sebagai pemandangan. Hindari itu, maka kamu bukan bagian dari masalah. Kamu seorang tamu.


Lebih dari Sekadar Uang: Ketika Penggemar Menjadi Warga

Tanda terdalam bahwa hubungan-hubungan ini nyata adalah apa yang terjadi seiring waktu. Di kota-kota yang melakukannya dengan benar, penggemar berhenti menjadi wisatawan dan menjelma menjadi sesuatu yang sama sekali lain.

Di Oarai, warga lokal punya julukan untuk pengunjung. Seorang penggemar mengenang:

数年前大洗に行った時、地元のおばあちゃんに『ガルパンさんですか?』って聞かれた Beberapa tahun lalu di Oarai, seorang nenek setempat bertanya kepada saya, "Apakah kamu salah satu orang Garupan?"

Kata itu — Garupan-san, kira-kira "Tuan dan Nyonya Girls und Panzer" — adalah sebuah monumen kecil tersendiri. Kota itu memberi para pengunjungnya nama yang penuh kasih sayang. Seorang pejabat kota menggambarkan pergeseran status ini:

もはやガルパンファンの方々は、観光客ではあるんでしょうけど、観光客ではないんでしょうね。大洗にすごく愛着をもっていただけていると思います Pada titik ini para penggemar secara teknis memang wisatawan, mungkin — tapi mereka sebenarnya bukan lagi wisatawan. Mereka sudah menumbuhkan rasa cinta yang sungguh-sungguh pada Oarai. — Pejabat kota Oarai

Ikatan itu bertahan lebih lama daripada popularitas anime-nya. Di Washinomiya, seorang pemilik toko manisan telah menyaksikan satu babak penuh kehidupan pelanggannya terbentang:

10年前には高校生や大学生だったファンの方から、今では『結婚した』とか『子供ができた』といった報告も受けるようになりました。それでも皆さん来てくださいます Para penggemar yang sepuluh tahun lalu masih siswa SMA atau mahasiswa kini bercerita kepada saya bahwa mereka sudah menikah, atau punya anak. Dan mereka tetap saja terus datang. — Pemilik toko manisan di Washinomiya

Ada pula kisah lintas generasi yang terlipat di dalamnya. Banyak pemilik toko yang kini memuja para penggemar berawal dengan kebingungan total. Para pedagang Washinomiya mengakuinya sebanyak itu — dan memilih rasa ingin tahu ketimbang penolakan:

正直、このアニメについて、当初自分たちには理解できない部分もあった。…まずはちゃんと話をしてみるべきではないか Sejujurnya, mulanya ada bagian-bagian dari anime ini yang sama sekali tak bisa kami pahami. [Tapi] bukankah setidaknya kita seharusnya duduk dan benar-benar berbincang dulu dengan mereka? — Asosiasi pedagang Washinomiya

Pilihan itu — berbincang dulu, menilai kemudian — adalah cara sebuah jalan perbelanjaan yang menua, penuh orang yang belum pernah menonton acaranya, berakhir bertukar oleh-oleh dan lelucon dalam dengan anak-anak muda dua puluhan dari seluruh penjuru negeri. Seperti yang dikagumi seorang pemilik toko Numazu, jalan-jalan yang sebelumnya diam-diam memutih kini tiba-tiba dipenuhi anak-anak muda usia dua puluhan dan tiga puluhan, dan kota itu "menjadi cerah."

💡 Produk sebenarnya tak pernah berupa barang dagangan

Seorang pedagang Washinomiya mengatakan tujuannya tak pernah keuntungan jangka pendek — melainkan agar para penggemar bahagia, dengan keyakinan bahwa sisi ekonominya akan mengikuti. Itulah logika senyap kota-kota ini. Mereka tidak berjualan kepada penggemar. Mereka berteman dengan mereka. Dan ternyata, persahabatan membuat orang kembali selama sepuluh tahun.


Apa Artinya Ini bagi Kunjunganmu

Jika kamu sedang merencanakan ziarahmu sendiri — ke sebuah kota anime, lokasi film, atau tempat dari video musik — kesimpulannya membebaskan: kamu hampir pasti disambut. Kota-kota yang membangun jati dirinya di seputar sebuah cerita menginginkan kamu di sana. Kunjunganmu adalah tindakan kecil untuk menjaga sebuah tempat tetap hidup.

Seluruh etiketnya muat dalam satu gagasan: perlakukan sebagai kota, bukan set film.

  • Beli sesuatu, sapalah. Keajaiban tempat-tempat ini adalah percakapannya. Satu pembelian dan satu sapaan di toko lokal adalah seluruh ritualnya — itulah yang mengubahmu dari seorang fotografer menjadi seorang tamu.
  • Perhatikan ruang bersama. Di tempat seperti perlintasan Kamakura, jauhi jalan dan rel, dan jangan menghalangi lalu lintas atau pintu masuk demi sebuah foto. Untuk gambaran lengkap tentang pemotretan yang penuh hormat, lihat panduan kami tentang etiket memotret di tempat wisata — dan tentang merekam orang, lihat bagaimana sebenarnya rasanya direkam di Jepang.
  • Jangan pernah menginjak tanah pribadi. Jika sebuah "lokasi" tampak seperti rumah, taman, atau tempat kerja seseorang, memang begitulah adanya. Memotretlah dari jalan umum, dan jangan pernah masuk.
  • Bacalah suasana soal rombongan, keributan, dan waktu. Gang permukiman yang tenang pukul 7 pagi bukan tempat untuk sesi foto rombongan yang heboh. Rombongan lebih kecil, suara lebih pelan, di jam-jam siang.
  • Menyebarlah. Wisata anime, seperti semua perjalanan di Jepang, sejatinya adalah persoalan distribusi — jawabannya bukan lebih sedikit penggemar, melainkan penggemar yang memperlakukan kota-kota yang kurang dikenal sehangat perlintasan-perlintasan yang termasyhur. Kota seperti Kamakura memberi imbalan kepada pengunjung yang datang pagi-pagi dan berlama-lama dengan penuh perhatian.

Lakukan ini, maka kamu bukan sedang nekat memasuki kota yang membencimu. Kamu sedang melangkah ke kota yang, sangat mungkin, akan menghafal wajahmu.


Pernahkah Kamu Berziarah?

Pernahkah kamu mengunjungi lokasi dunia nyata sebuah anime, film, atau lagu di Jepang — dan bertemu orang-orang yang tinggal di sana? Kami ingin sekali mendengar bagaimana ceritanya.

Voice Box →


Sumber

Fakta & Angka (Tier 1-2)

  • Oarai & Festival Ikan Sungut Ganda (Girls und Panzer)
    • Asosiasi Nasional Kota dan Desa (全国町村会), esai studi kasus Oarai — jumlah pengunjung festival hampir berlipat dua menjadi ~65.000 (2012), ~100.000 (2013–14); kota menyatakan sengaja tidak menghitung angka dampak ekonomi: zck.or.jp
    • Universitas Tsukuba, jurnal tahunan riset kewilayahan (地域研究年報 38, 2016) — konteks pemulihan setelah bencana 2011 dan kerusakan reputasi: geoenv.tsukuba.ac.jp (PDF)
    • Makalah riset bencana DPRI Universitas Kyoto — peran kamar dagang, kerelawanan penggemar, dan syarat-syarat keberhasilan: dpri.kyoto-u.ac.jp (PDF)
    • Jumlah pengunjung festival ~135.000 (2018), dilaporkan penyelenggara: Famitsu
  • Kuil Washinomiya (Lucky Star)
    • MANTANWEB (grup Mainichi) — pengunjung tiga hari Tahun Baru: 90.000 (2007, sebelum anime) → 300.000 (2008) → ~470.000 (puncak 2011–12): mantan-web.jp
    • Dengeki Online — sertifikat warga khusus yang diterbitkan untuk tokoh-tokoh anime (April 2008): dengekionline.com
    • Asosiasi Nasional Kota dan Desa (全国町村会) — pendekatan asosiasi pedagang Washinomiya: zck.or.jp
  • Perlintasan Kamakura-Kōkō-Mae (Slam Dunk)
    • Tokyo Shimbun — kota menempatkan petugas pengaman dan meminta kepatuhan pada sopan santun: tokyo-np.co.jp
    • Kanagawa Shimbun (Kanaloco) — jumlah petugas naik dari dua menjadi tujuh pada masa puncak; wisatawan diminta tidak memotret di jalan: kanaloco.jp
  • Skala wisata anime
    • KADOKAWA Group — Asosiasi Pariwisata Anime didirikan 2016; pemungutan suara penggemar tahunan "situs ziarah anime": group.kadokawa.co.jp
    • ASCII.jp — pemungutan suara 2026: ~85.000 suara dari 110 negara/wilayah: ascii.jp
    • Siaran pers Trip.com Group (Mei 2026) — pencarian perjalanan anime/komik di seluruh Asia +195% dari tahun ke tahun; penjualan tiket internasional AnimeJapan 2026 +697% dari tahun ke tahun (angka korporat, dikutip dari Trip.com): prnewswire.com
    • Badan Pariwisata Jepang (観光庁), Survei Konsumsi Wisatawan Mancanegara 2024 — 8,1% pengunjung mancanegara mengunjungi lokasi film/anime pada perjalanan ini; 11,8% ingin lain kali: mlit.go.jp (PDF)

Media Berita & Wawancara Resmi

Suara Daring

  • Situs tanya jawab, forum, dan unggahan media sosial publik Jepang — opini langsung tentang apakah warga lokal menyambut peziarah anime, di mana batas antara sambutan dan gangguan, lokasi yang merupakan milik pribadi, serta perilaku di situs ziarah yang berada di kawasan permukiman.

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform daring telah disunting ringan agar mudah dibaca (memperbaiki salah ketik, merapikan format untuk kejelasan). Makna dan maksud setiap komentar tetap tidak berubah. Sumber aslinya ditautkan di atas.


Artikel ini tersedia dalam bahasa-bahasa yang mencakup 95%+ pengunjung ke Jepang (berdasarkan data JNTO 2025). Butuh bahasa lain? Beri tahu kami melalui Voice Box.

How well do you know Japan?

Based on 21,784+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

この記事についてもっと聞きたいことがありますか?日本人に聞いてみます。

Voice Box →