Skip to content
WMJS
Apakah Mengenakan Kimono sebagai Orang Asing di Jepang Termasuk Apropriasi Budaya? Apa yang Sebenarnya Dipikirkan Orang Jepang
What Makes Japan Smile Oleh Kei · Lahir dan besar di Jepang Diperbarui 13 menit baca

Apakah Mengenakan Kimono sebagai Orang Asing di Jepang Termasuk Apropriasi Budaya? Apa yang Sebenarnya Dipikirkan Orang Jepang

Yang akan kamu pelajari di artikel ini:

  • Apa kata lebih dari 175 orang Jepang ketika ditanya apakah orang asing yang mengenakan kimono itu apropriasi — atau apresiasi
  • Mengapa pemerintah Jepang sendiri justru mengajak seluruh dunia untuk mengenakannya
  • Satu hal yang benar-benar mengubah cara sebuah kimono "dibaca" — dan itu bukan soal siapa dirimu

Apakah mengenakan kimono di Jepang termasuk apropriasi budaya? Kami mengumpulkan lebih dari 175 suara orang Jepang tentang pertanyaan ini secara langsung. Jawabannya jelas: ini disambut, bukan dibenci — sekitar 76% melihat pengunjung yang mengenakan kimono sebagai apresiasi, dan hanya 6% yang keberatan. Dan kekhawatiran yang memang ada bukan tentang siapa yang mengenakannya, melainkan bagaimana cara mengenakannya. Dikenakan dengan sedikit kepedulian, kimono terbaca sebagai rasa hormat.

Lebih dari 175 suara orang Jepang untuk satu pertanyaan: Ketika seorang pengunjung mengenakan kimono — itu apresiasi, atau apropriasi?

Kamu mungkin pernah melihat judul-judul beritanya. Sebuah museum membatalkan acara coba-pakai kimono setelah ada protes. Seorang selebriti menamai lini pakaian pembentuk tubuh dengan nama "Kimono" dan internet pun heboh. Di tengah perjalanan itu, sebuah kekhawatiran diam-diam pun muncul: Aku ingin sekali mengenakan kimono di Kyoto — tapi apakah itu tidak sopan? Apakah aku mengambil sesuatu yang bukan milikku?

Itu pertanyaan yang penuh pertimbangan. Fakta bahwa kamu menanyakannya sudah menunjukkan sesuatu yang baik tentang dirimu. Jadi kami melakukan apa yang selalu kami lakukan: alih-alih menebak-nebak, kami pergi dan bertanya langsung kepada orang Jepang — di forum berbahasa Jepang, situs tanya-jawab, dan media sosial — apa yang sebenarnya mereka rasakan saat melihat pengunjung asing mengenakan kimono.

Jurang antara perdebatan daring dan perasaan di lapangan ternyata sangat lebar. Dan bagian yang paling mengejutkan kebanyakan pengunjung adalah ini: percakapan "apropriasi" yang paling lantang justru sebagian besar terjadi di luar Jepang.


Panduan Singkat

Kekhawatiran Apa kata orang Jepang
🟢 Tenang "Mengenakannya itu apropriasi?" Sekitar 76% menyambutnya sebagai apresiasi. "Aku juga ingin orang Barat mengenakan kimono — siapa pun terlihat manis dengannya."
🟢 Tenang "Bagaimana kalau aku mengenakannya kurang rapi?" Pasnya sedikit longgar hampir tak terlihat. "Selama jelas bahwa kamu menyukainya, itulah yang penting."
🟡 Baik untuk diketahui "Apakah cara membawa diri itu penting?" Bagi sebagian kecil yang penuh perhatian, ya — tapi itu soal membawa diri dengan sedikit kepedulian, bukan soal izin.
🟢 Tenang "Menyewanya cuma ajang foto yang dangkal?" Pemerintah kota Kyoto sendiri memberi diskon bagi orang yang mengenakan kimono — termasuk wisatawan. Industrinya menginginkan kehadiranmu.
🔴 Layak diketahui "Apakah ada batasnya?" Ada — tapi itu soal niat (mengoloknya, atau menanggalkan maknanya demi keuntungan), bukan soal kewarganegaraanmu.

Satu hal untuk diingat: Di Jepang, pertanyaannya bukan apakah kamu boleh mengenakan kimono. Melainkan apakah kamu mengenakannya bersama budayanya atau untuk mengoloknya. Datanglah dengan rasa ingin tahu dan sedikit kepedulian, maka kamu tidak sedang mengapropriasi apa pun — kamu sedang disambut.


Bagaimana Kami Mengumpulkan Suara-Suara Ini

Kami mengumpulkan lebih dari 175 tanggapan berbahasa Jepang tentang pengunjung asing yang mengenakan kimono, diambil dari situs tanya-jawab, forum, dan unggahan media sosial berbahasa Jepang yang terbuka untuk umum, serta kolom komentar media Jepang. Kami juga merujuk pada pernyataan resmi dari Kota Kyoto dan pemberitaan mengenai kontroversi "apropriasi" yang sempat menjadi sorotan.

Catatan singkat: Ini bukan survei ilmiah — melainkan kumpulan apa yang benar-benar dikatakan orang Jepang, dengan kata-kata mereka sendiri, di platform-platform publik. Kami ingin menunjukkan kepadamu suhu jujur dari percakapan di dalam Jepang, yang sering kali terlihat sangat berbeda dari percakapan di luar negeri.


Pertanyaan yang Terus-Menerus Dijawab Orang Jepang

Salah satu utas yang kami baca diawali oleh seorang pengunjung asing yang bertanya, dalam bahasa Jepang: "Saya bukan orang Jepang, tapi saya ingin sekali mengenakan kimono. Apakah itu akan membuat orang Jepang tidak nyaman?" Jawaban-jawaban pun berdatangan — dan hampir tak satu pun mengatakan ya.

Dari 79 suara yang menjawab langsung pertanyaan soal apropriasi:

Menyambutnya — ini apresiasi
76%
Acuh tak acuh / "bukan urusanku"
18%
"Kimono milik kami"
6%

Kehangatan dalam tanggapan-tanggapan positif itu sulit untuk dilewatkan:

大歓迎。涙が出るほどうれしい。 Disambut dengan sepenuh hati. Aku begitu bahagia sampai hampir menangis.

西洋の人にも着物を着て欲しいし、誰が着た着物姿もキュートよ。 Aku ingin orang Barat juga mengenakan kimono, dan siapa pun yang memakainya terlihat manis.

Satu hal yang muncul berulang kali adalah semacam keadilan yang lembut — perasaan bahwa keberatan justru terasa aneh:

自分たちは洋服を着るのに、外国人が着物を着るのを怒るのは違うと思うから怒らない。 Kami sendiri mengenakan pakaian Barat, jadi marah pada orang asing yang mengenakan kimono itu terasa munafik. Itulah sebabnya aku tidak marah.

外国人が着物を着たくらいでアイデンティティがゆらいだりしない。 Identitas kami tidak akan goyah hanya karena orang asing mengenakan kimono.

Dan beberapa orang menunjukkan, dengan sedikit geli, bahwa suara-suara "apropriasi" yang paling keras justru cenderung tidak datang dari Jepang sama sekali:

外国人は日本人の和服姿には寛容なのに、むしろ白人の和服姿には厳しい。逆だよねって思う。 Orang-orang di luar negeri santai saja terhadap orang Jepang yang berpakaian tradisional, tapi malah lebih keras terhadap orang kulit putih yang mengenakannya. Menurutku ini terbalik.

Sebagian kecil yang keberatan memang ada — suara-suara seperti "kimono milik kami orang Jepang" — dan kami tidak berpura-pura bahwa mereka tidak ada. Tapi mereka jelas minoritas, dan yang patut dicatat, mereka keberatan terhadap gagasan orang luar mengenakan kimono, bukan terhadap apa pun yang benar-benar dilakukan seorang pengunjung.

💡 Kejutan yang sebenarnya

Perdebatan "apropriasi" yang terasa begitu panas secara daring nyaris tidak terasa sebagai kekhawatiran di dalam Jepang. Tanggapan yang dominan terhadap pengunjung yang mengenakan kimono bukanlah kecurigaan — melainkan sebuah terima kasih yang tenang karena kamu mencintai sesuatu yang kami cintai. Banyak orang Jepang benar-benar tersentuh olehnya.


Kyoto Mengatakannya dengan Lantang

Jika kamu menginginkan jawaban sejelas mungkin atas pertanyaan "kimono ini milik siapa?", kamu tidak perlu membaca di antara baris-baris postingan forum. Kamu bisa membacanya dalam surat resmi dari Kota Kyoto.

Pada 2019, ketika seorang selebriti mencoba mendaftarkan merek dagang untuk kata "Kimono" bagi sebuah merek pakaian pembentuk tubuh, Wali Kota Kyoto, Daisaku Kadokawa, menerbitkan sebuah surat terbuka. Ia tidak berargumen bahwa kimono hanya milik Jepang. Ia justru berargumen hampir sebaliknya:

Nama "Kimono" adalah aset yang dibagikan kepada seluruh umat manusia yang mencintai Kimono dan budayanya — karena itu ia tidak boleh dimonopoli.

Ia menjelaskan bahwa Jepang sedang berupaya agar budaya kimono diakui dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO justru karena ia dicintai oleh orang Jepang maupun non-Jepang sama-sama, dan bahwa sesuatu yang begitu dicintai "sepatutnya dibagikan kepada mereka yang mencintainya."

Bacalah lagi, karena ini membingkai ulang segalanya. Keberatan dalam kasus terkenal itu tidak pernah berbunyi "orang asing tidak boleh mengenakan kimono." Melainkan "satu perusahaan tidak boleh menguasai kata itu dan menanggalkan maknanya." Lalu soal mengenakannya? Pemerintah Kyoto sendiri menyebut itu sebagai berbagi — dan menyambutnya.


Jadi, Apa yang Sebenarnya Mereka Pedulikan?

Di sinilah letak yang menarik. Ketika orang Jepang memang punya reaksi di luar "ya, silakan", itu hampir tidak pernah soal apakah kamu punya izin. Itu soal bagaimana kamu membawa diri begitu kamu mengenakannya.

Dari 75 suara yang menjawab pertanyaan "bagaimana cara mengenakannya":

Usaha dan kegembiraanmulah yang penting
68%
Sedikit cara membawa diri menunjukkan rasa hormat
21%
Mengenakannya asal-asalan terkesan ceroboh
11%
Catatan tentang yang 11%: batang merah ini bukan berarti "jangan kenakan". Suara-suara ini justru mengatakan sebaliknya — kimono itu indah, jadi kenakanlah dengan sedikit kepedulian. Kekesalan mereka tertuju pada cara mengenakan yang asal-asalan, tidak pernah pada kewarganegaraan pemakainya. Ini bedanya antara "kamu tidak boleh memiliki ini" dan "ini indah; perlakukanlah seperti itu".

Bagi kebanyakan orang, niat adalah segalanya:

好きで着てくれているのが伝われば、多少着付けが甘くても全然いい。気持ちの問題。 Selama terasa bahwa mereka mengenakannya karena menyukainya, pas yang sedikit longgar pun sama sekali tidak masalah. Yang penting adalah hati di baliknya.

Dan inilah detail yang seharusnya melenyapkan kecemasan sepenuhnya: orang-orang yang paling cenderung mengomeli cara siapa pun mengenakan kimono punya julukan di Jepang — "polisi kimono" (kimono keisatsu) — dan orang Jepang sendiri pun tidak menyukai mereka.

着物警察がコメントしてきたら、黙って即ブロでいい。鬱陶しいだけ。 Kalau "polisi kimono" muncul di kolom komentarmu, blokir saja mereka diam-diam. Mereka cuma bikin sebal.

着物文化が廃れたのは、ああいう人たちのせいでもあるよね。自分たちで好きなものを潰していくスタイル。 Budaya kimono memudar sebagian karena orang-orang seperti itu — kebiasaan perlahan-lahan menghancurkan hal yang justru kita cintai.

Dengan kata lain: suara ketat dan penjaga gerbang yang kamu takutkan itu bukanlah suara Jepang. Itu suara yang justru ditentang oleh orang Jepang sendiri. Perasaan yang dominan jauh lebih dekat ke kami hanya senang kamu ada di sini dengan mengenakannya. Beberapa bahkan mencatat bahwa pengunjung yang meluangkan waktu untuk belajar bisa membawakan kimono dengan indah:

着物を着る外国人の方が、最近は日本人より所作がきれいなことすらある。ちゃんと習って来てる人もいるからね。 Belakangan ini sebagian orang asing yang mengenakan kimono membawa diri bahkan lebih anggun daripada orang Jepang — ada yang benar-benar datang setelah belajar dengan baik.

💡 Apa yang sebenarnya mendatangkan kehangatan

Bukan teknik yang sempurna. Melainkan kepedulian. Sebuah kimono yang dikenakan oleh seseorang yang jelas-jelas gembira memakainya selalu terbaca sebagai rasa hormat — sekalipun obinya sedikit miring. "Cara yang benar" mengenakan kimono, dalam makna yang paling penting bagi orang-orang, adalah mengenakannya dengan riang.


Lalu, Di Mana Sebenarnya Batasnya?

Kami berjanji untuk jujur, jadi mari kita sebut satu 🔴 yang memang nyata. Ada cara mengenakan kimono yang membuat sebagian orang Jepang merasa tidak nyaman — tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan paspormu. Itu soal niat dan konteks.

Batasnya bukan siapa yang mengenakannya. Melainkan apakah kamu mengenakannya bersama budayanya atau untuk mengoloknya:

問題なのは着物そのものを着ることじゃなくて、文化の文脈を全部はぎ取って商売の道具にすること。 Masalahnya bukan mengenakan kimono itu sendiri — melainkan menanggalkan seluruh konteks budayanya dan menjadikannya alat dagang.

Itulah benang yang menghubungkan kontroversi-kontroversi terkenal itu. Acara coba-pakai di museum pada 2015 dan kasus penamaan merek pakaian pembentuk tubuh pada 2019 sama-sama menjadi titik panas di luar negeri — dan dalam keduanya, reaksi paling tajam datang dari diaspora, bukan dari Jepang. (Bagi orang Amerika keturunan Jepang, kepekaan itu berakar dalam: ada sejarah yang menyakitkan di mana keluarga-keluarga ditekan untuk meninggalkan penanda budaya seperti kimono. Kekhawatiran, di mana pun ia ada, lahir dari cinta dan kehilangan — bukan dari penjagaan gerbang.) Di dalam Jepang, reaksinya sangat berbeda. Di museum itu, para pengunjuk rasa balasan dari Jepang — termasuk para perempuan lanjut usia berkimono — justru datang untuk membela acara tersebut, salah satunya membawa papan bertuliskan, intinya, "Saya tidak tersinggung oleh orang-orang yang mengenakan kimono."

Jadi batas praktisnya sederhana, dan mudah untuk tetap berada di sisi yang benar:

  • Mengenakan kimono karena kamu merasa ia indah dan ingin mengalaminya? Itu apresiasi. Disambut, dengan hangat.
  • Memperlakukannya sebagai lelucon, kostum untuk mengolok-olok, atau logo yang ditempel pada produk yang sudah ditanggalkan maknanya? Itulah bagian yang ditentang orang — dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan menyewa satu untuk sebuah hari yang indah di Kyoto.
  • Menuju ke suatu tempat yang benar-benar bersifat upacara (upacara minum teh, acara formal, ritual di kuil)? Cukup bawa dirimu dengan rasa hormat yang tenang seperti yang akan kamu bawa ke ruang sakral mana pun. Itu bukan aturan kimono — itu aturan menjadi tamu yang baik.

Jika kamu menyewa kimono untuk berjalan menyusuri Gion, memotret dedaunan musim gugur, dan merasakan sedikit Jepang masa lampau selama satu sore — kamu jauh sekali dari batas itu. Kamu sedang melakukan persis apa yang Kyoto undang untuk kamu lakukan.


Mengapa Jepang Begitu Senang Melihatmu Mengenakannya

Ada alasan yang lebih dalam mengapa kehangatannya begitu kuat, dan ini layak untuk dipahami.

Kimono perlahan menghilang dari kehidupan sehari-hari orang Jepang. Pasar ritel kimono mencapai puncaknya di sekitar ¥1,8 triliun pada 1981; pada 2023 angka itu telah turun menjadi sekitar ¥224 miliar — menyusut menjadi sekitar seperdelapan dari ukurannya semula dalam empat dekade, menurut Yano Research Institute. Saat ini, kebanyakan orang Jepang hanya mengenakan kimono untuk upacara, kalaupun ada. Para nenek yang dulu mengajari cucu perempuan mereka cara mengikat obi semakin menua, dan pengetahuan itu tidak lagi diwariskan seperti dulu.

Jadi ketika seorang Jepang melihatmu — seorang pengunjung — berjalan di jalanan dengan kimono, kamu sering kali sedang melakukan sesuatu yang sudah tidak lagi dilakukan banyak anak muda Jepang sendiri. Itulah sebabnya reaksinya begitu sering bersifat emosional ketimbang teritorial.

着物の国に生まれたのに、こんなすてきな着物を着ないなんてもったいない。 Sungguh sayang sekali — lahir di negeri kimono tapi tak pernah mengenakan sesuatu seindah ini.

Kyoto telah memahami hal ini bertahun-tahun lalu. Untuk membantu menjaga tradisi ini (dan para perajin di baliknya) tetap hidup, kota ini mendorong orang untuk mengenakan kimono dengan menawarkan diskon di kuil, museum, di kereta bawah tanah, dan di restoran-restoran peserta — dan wisatawan yang mengenakan kimono sewaan pun termasuk. Menyewa kimono untuk satu hari bukanlah mengambil sesuatu dari budayanya. Dalam cara yang kecil namun nyata, itu justru membantu meneruskannya.


Beberapa Catatan Lembut dan Praktis

Kamu tidak perlu menjadi ahli. Tapi kalau kamu ingin pengalaman ini terasa lebih menyenangkan lagi:

  • Cukup sewa saja. Kyoto dan Asakusa penuh dengan toko, banyak yang memiliki staf berbahasa Inggris, sering kali mulai dari sekitar ¥4.000. Mereka akan mengenakannya untukmu dengan benar, yang menghapus hampir semua kekhawatiran "apakah caraku sudah benar?". (Kalau kamu ingin pengalaman berkualitas lebih tinggi, mintalah opsi berbahan serat alami atau toko kelas menengah.)
  • Jangan stres soal kesempurnaan. Kerah yang longgar atau obi yang sedikit miring nyaris tak terlihat oleh hampir semua orang — dan kalau ada yang benar-benar melorot, kemungkinan besar seorang asing yang baik hati akan diam-diam membantumu.
  • Satu hal yang benar-benar layak diketahui: sisi kiri menyilang di atas sisi kanan (sisi kanan menempel ke tubuhmu lebih dulu). Terbalik adalah cara orang yang telah meninggal dikenakan pakaian. Toko persewaanmu akan membuat ini benar untukmu — hanya saja, enak rasanya untuk memahaminya.
  • Bawalah dirimu dengan sedikit kepedulian. Bukan dengan kaku. Cukup dengan riang. Itulah seluruh rahasianya.

Kalau kamu ingin menyelami lebih dalam soal teknisnya — aturan kiri-kanan, apa yang terjadi kalau ia melorot — kami telah menulis sebuah artikel pendamping khusus tentang kekhawatiran itu.


Lebih Banyak Sudut Pandang Orang Jepang

Artikel ini adalah bagian dari seri tentang apa yang sebenarnya dirasakan orang Jepang ketika para pengunjung berusaha terhubung dengan budaya mereka:


Suaramu Berarti

Pernahkah kamu mengenakan kimono di Jepang — atau justru mengurungkan niat karena tidak yakin apakah boleh? Bagaimana rasanya? Apakah ada orang asing yang tersenyum, membantu, atau mengatakan sesuatu yang baik?

Voice Box →

Setiap sudut pandang membantu kami menyusun gambaran yang lebih utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika budaya-budaya bertemu — dan membantu pengunjung berikutnya yang gugup merasa sedikit lebih berani.


Sumber

Pernyataan dan Lembaga Resmi

Media dan Pemberitaan

Suara dari Publik

  • Situs tanya-jawab, forum, dan unggahan media sosial berbahasa Jepang yang terbuka untuk umum — pendapat langsung tentang apakah orang asing yang mengenakan kimono membuat tidak nyaman atau merupakan sebuah "pemaksaan," tentang "polisi kimono," dan tentang perbedaan antara penghargaan dan apropriasi.

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform daring telah disunting ringan agar lebih mudah dibaca (memperbaiki salah ketik, merapikan format demi kejelasan). Makna dan maksud dari setiap komentar tetap tidak berubah. Sumber aslinya ditautkan di atas.

Artikel ini tersedia dalam bahasa-bahasa yang mencakup 95%+ pengunjung ke Jepang (berdasarkan data JNTO 2025). Butuh bahasa lain? Beri tahu kami melalui Voice Box.

How well do you know Japan?

Based on 19,217+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

この記事についてもっと聞きたいことがありますか?日本人に聞いてみます。

Voice Box →