Apa yang Dicari Jepang Tentang Kamu
Apa yang akan kamu pelajari di artikel ini:
- Apa yang diungkapkan Google Trends tentang rasa ingin tahu, kekhawatiran, dan sesuatu yang sama sekali terlewatkan oleh berita utama
- Apa yang disampaikan 4.424 orang Jepang kepada pemerintah mereka tentang perasaan mereka terhadap meningkatnya orang asing di komunitas mereka
- Kenapa kelompok terbesar tidak bermusuhan, tidak menyambut — mereka hanya belum pernah bertemu denganmu
0 → 12. Pada 2019, tidak ada orang di Jepang yang mencari "Kenapa orang asing datang ke Jepang." Pada 2025, ini menjadi salah satu pencarian dengan pertumbuhan tercepat di Google Japan.
Apa yang sebenarnya dipikirkan Jepang tentang turis? Survei pemerintah 4.424 warga dan 6 tahun data Google Trends mengungkap jawabannya. Pencarian 'overtourism' naik 10,8 kali lipat, tapi 'tidak suka orang asing' tetap datar. Kelompok terbesar (47,3%) belum memutuskan — bukan bermusuhan, hanya belum bertemu denganmu. Dan pencarian penasaran seperti 'kenapa orang asing datang ke Jepang' tumbuh hampir 3 kali lebih cepat daripada keluhan.
Kamu mungkin sudah pernah lihat berita-berita itu. "Overtourism di Jepang." "Turis dilarang masuk distrik Geisha." "Gerbang dipasang di Gunung Fuji." Membaca berita-berita itu, kamu mungkin bertanya-tanya: Jepang memang mau aku datang?
Kami juga bertanya-tanya begitu. Jadi alih-alih menebak, kami melihat data — bukan survei wisatawan, tapi apa yang orang Jepang sendiri cari, katakan, dan laporkan ke pemerintah mereka tentang perasaan mereka terhadap pengunjung asing. Kami menganalisis enam tahun data Google Trends dari Jepang (2019–2025) dan survei pemerintah nasional terhadap 4.424 warga Jepang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik berita-berita itu.
Jawabannya mengejutkan kami. Ya, kekhawatiran memang meningkat. Tapi ada hal lain yang juga meningkat — sesuatu yang tidak pernah disebutkan berita tentang overtourism.
Ringkasan Singkat
| Apa Kata Angka | Apa Kata Orang Jepang | |
|---|---|---|
| 🟢 Yang mengejutkan | "Kenapa orang asing datang ke Jepang" muncul dari nol dan melonjak — rasa ingin tahu tentang pengunjung tumbuh hampir 3× lebih cepat dari keluhan soal tata krama | "当たり前だと思ってたことが、実は奇跡だった" — "Apa yang kami anggap biasa ternyata adalah keajaiban." Orang Jepang sedang menemukan kembali budaya mereka sendiri lewat mata kamu. |
| 🟡 Cerita sebenarnya | 47,3% orang Jepang bilang "Saya belum yakin" — kelompok terbesar tidak bermusuhan atau menyambut. Mereka belum memutuskan. Dan 73,5% bilang alasan mereka tidak punya teman asing hanyalah "tidak ada kesempatan." | "助けたいけど英語が不安で…" — "Saya mau bantu, tapi khawatir soal bahasa Inggris..." Jaraknya bukan permusuhan. Tapi jembatan yang belum dibangun. |
| 🔴 Yang mengkhawatirkan | Pencarian "Overtourism" meledak 10,8× sejak 2019 — Jepang benar-benar khawatir soal tekanan infrastruktur | "京都市民は自分たちが乗れないバスに市民税を払わされてます" — "Warga Kyoto membayar pajak kota untuk bus yang mereka sendiri tidak bisa naik." Tapi kemarahannya ditujukan pada sistem, bukan pada kamu. |
Satu hal yang perlu diingat: Pencarian "Benci orang asing" sama sekali tidak bergerak sejak 2019. Kekhawatiran Jepang soal infrastruktur, bukan soal kamu. Dan rasa ingin tahu mereka tentangmu tumbuh lebih cepat dari kekhawatiran mereka.
Tentang Data
📊 Survei pemerintah — Data sikap berasal dari Survei Sikap terhadap Hidup Berdampingan dengan Warga Negara Asing oleh Badan Layanan Imigrasi (Responden Jepang), survei nasional terhadap 4.424 warga negara Jepang yang dilakukan Oktober–November 2023 melalui surat dan web. Pengambilan sampel acak dari Daftar Penduduk Dasar. Laporan lengkap (PDF)
📈 Data pencarian — Data Google Trends untuk 16 kata kunci bahasa Jepang, periode Januari 2019 – Januari 2026, difilter untuk Jepang. Nilai menunjukkan minat pencarian relatif (skala 0–100) yang dirata-ratakan tahunan.
💬 Suara orang Jepang — 372 tanggapan berbahasa Jepang dikumpulkan dari platform publik dalam enam topik. Bukan survei ilmiah — melainkan kumpulan apa yang dikatakan orang Jepang sungguhan dengan kata-kata mereka sendiri.
Bagian 1: Apa yang Diketik Jepang di Kolom Pencarian
Gelombang yang Sudah Kamu Dengar
Mari mulai dengan apa yang sudah kamu duga. Ya — orang Jepang semakin banyak mencari tentang masalah terkait pariwisata.
| Kata Kunci (Bahasa Jepang) | Arti | 2019 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|---|
| オーバーツーリズム | "Overtourism" | 5.3 | 57.3 | 10,8× |
| インバウンド 問題 | "Masalah pariwisata inbound" | 0.7 | 3.5 | 5,0× |
| 迷惑 外国人 | "Orang asing merepotkan" | 1.2 | 5.4 | 4,5× |
| 外国人 マナー | "Tata krama orang asing" | 4.9 | 8.0 | 1,6× |
"Overtourism" berubah dari istilah khusus menjadi kekhawatiran umum — naik 10,8 kali lipat. Pencarian tentang tata krama wisatawan hampir dua kali lipat. Ini nyata. Jepang memang khawatir.
Tapi di sinilah mulai menarik.
Sinyal yang Tidak Disangka Siapa pun
Sementara kekhawatiran meningkat, ada hal lain yang diam-diam melonjak di kolom pencarian Jepang:
| Kata Kunci (Bahasa Jepang) | Arti | 2019 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|---|
| 外国人 なぜ日本に来る | "Kenapa orang asing datang ke Jepang" | 0.0 | 12.1 | Baru |
| 外国人 なぜ日本 | "Orang asing — kenapa Jepang" | 5.5 | 15.5 | 2,8× |
| 外国人 文化 | "Budaya orang asing" | 22.9 | 36.4 | 1,6× |
"Kenapa orang asing datang ke Jepang" secara harfiah tidak ada sebagai pencarian sebelum 2023. Lalu muncul — dan melesat. Orang Jepang tidak hanya khawatir soal kepadatan. Mereka benar-benar bertanya: Kenapa kamu suka negara kami?
Dan pencarian "budaya orang asing" tumbuh stabil dari 22,9 ke 36,4 — kenaikan yang tenang tapi konsisten dari rasa ingin tahu budaya.
Angka yang Tidak Bergerak
Sekarang lihat ini:
| Kata Kunci (Bahasa Jepang) | Arti | 2019 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|---|
| 外国人 嫌い | "Benci orang asing" | 3.1 | 2.9 | 0,9× (datar) |
| 観光公害 | "Polusi pariwisata" | 3.2 | 2.6 | 0,8× (datar) |
Ini angka yang sama sekali terlewatkan oleh berita utama.
Kekhawatiran overtourism meledak 10,8 kali lipat. Tapi "benci orang asing" tidak bergerak. Bahkan sedikit turun, dari 3,1 ke 2,9. Di periode ketika jumlah pengunjung mencetak rekor tertinggi sepanjang masa 42,68 juta, ketika warga Kyoto tidak bisa naik bus kota mereka sendiri, ketika Gunung Fuji membutuhkan gerbang fisik — volume pencarian xenofobik tetap datar.
Frustrasi Jepang itu nyata. Tapi ditujukan pada sistem — infrastruktur, kebijakan, desain kota — bukan pada kamu.
Apa yang Disampaikan 4.424 Orang Jepang kepada Pemerintah
Pencarian Google mengungkap perilaku. Tapi survei pemerintah mengungkap sikap yang dinyatakan. Akhir 2023, Badan Layanan Imigrasi Jepang bertanya kepada 4.424 warga negara Jepang yang dipilih secara acak — melalui surat, bukan online — tentang perasaan mereka terhadap meningkatnya orang asing di komunitas mereka.
| Jawaban | Persentase |
|---|---|
| 🟢 Menyambut ("positif" + "agak positif") | 28,7% |
| 🟡 Belum memutuskan ("tidak bisa bilang") | 47,3% |
| 🔴 Tidak nyaman ("agak negatif" + "negatif") | 23,5% |
Kelompok terbesar — hampir setengah — memilih "tidak bisa bilang." Tidak bermusuhan. Tidak antusias. Hanya... belum memutuskan. Dan ketika ditanya kenapa mereka tidak punya teman asing, jawabannya sangat jelas:
付き合う場やきっかけがないから "Karena tidak ada kesempatan atau tempat untuk berinteraksi."
73,5% memberikan jawaban ini. Bukan "Saya tidak mau." Bukan "Saya tidak nyaman." Hanya: Belum ada kesempatan.
Efek generasi sangat jelas:
| Kelompok Usia | "Menyambut" | "Tidak nyaman" | "Belum memutuskan" |
|---|---|---|---|
| 18–19 | 53,2% | 8,5% | 31,9% |
| 20–24 | 33,9% | 17,6% | 39,8% |
| 25–29 | 40,5% | 22,1% | 37,2% |
| 50–54 | 26,3% | 25,3% | 47,5% |
| 65–69 | 23,8% | 14,7% | 54,3% |
| 80+ | 14,7% | 13,2% | 57,4% |
Di kalangan usia 18–19 tahun, mayoritas menyambut lebih banyak orang asing. Di kalangan 80+, kelompok terbesar (57,4%) hanya bilang "Saya belum yakin." Pergeseran generasi jelas — tapi bahkan di kalangan orang Jepang yang lebih tua, nada dominannya bukan permusuhan. Melainkan ketidakpastian.
Bagian 2: Apa yang Tidak Bisa Diceritakan Angka
Statistik menggambarkan sebuah potret. Tapi angka tidak bisa menangkap helaan napas warga Kyoto yang melihat bus tur lagi-lagi menghalangi jalan, atau jantung yang berdebar ketika seseorang ditanya arah oleh orang asing lalu membeku karena bahasa Inggrisnya hilang. Untuk itu, kamu perlu mendengar suaranya langsung.
"Masalahnya Bukan Kamu — Tapi Sistemnya"
無料で開放し、入域を制限せず、料金も徴収せず、住民と観光客を同じ空間に押し込める。こうした無策の積み重ねが、京都のバス、富士山の渋滞、沖縄の交通麻痺を生み出した。 Akses gratis, tanpa batas masuk, tanpa biaya, memadatkan warga dan turis di ruang yang sama — akumulasi ketidakbertindakan inilah yang menciptakan krisis bus di Kyoto, kemacetan di Gunung Fuji, dan kelumpuhan lalu lintas di Okinawa. — Peneliti pariwisata inbound, Gendai Business
京都市民は自分たちが乗れないバスに市民税を払わされてます。 Warga Kyoto membayar pajak kota untuk bus yang mereka sendiri tidak bisa naik.
通勤時間に観光客は乗りません。平日は学生は勉強、大人は働いています。邪魔ではないから、道を教えたり、しています。 Turis tidak naik saat jam berangkat kerja. Hari kerja, pelajar belajar dan orang dewasa bekerja. Mereka tidak menghalangi — jadi saya kasih petunjuk arah dan bantu mereka. — Warga Kyoto
オーバーツーリズムは「人が多すぎる現象」ではなく、同じ空間をどう分け合うか、その設計が追いついていないときに起こる現象です。問題は、数ではなく、重なり方です。 Overtourism bukan "terlalu banyak orang" — itu terjadi ketika desain untuk berbagi ruang yang sama belum menyusul. Masalahnya bukan jumlah. Tapi cara bertumpuknya.
Data × suara: Google Trends menunjukkan "overtourism" melonjak 10,8 kali — tapi ketika kamu baca apa yang sebenarnya ditulis orang Jepang tentang hal itu, kata "turis" hampir tidak muncul sebagai penjahat. Sasarannya adalah pemerintah kota, kebijakan bus, regulasi hotel, dan desain kota. Seorang warga Kyoto memang marah — tapi pada kantor walikota, bukan pada kamu. Bahkan suara-suara yang frustrasi cenderung menarik garis yang jelas: sistemnya yang gagal, dan turis juga terjebak di dalamnya.
"Kami Lebih Penasaran Tentangmu dari yang Kamu Kira"
当たり前だと思っていたことが、実は奇跡だったんだ。 Apa yang kami anggap biasa ternyata adalah keajaiban.
海外の人が観光する所が意外なところで驚くし。 Saya terkejut karena orang asing memilih tempat wisata yang tidak terduga.
なぜか日本人だけが「私たち、日本人についてどう思いますか?」って聞いてくる! Entah kenapa cuma orang Jepang yang suka bertanya "Apa pendapatmu tentang kami orang Jepang?"
ヤラセくさいよね。自分の国の価値は自分で決めるし。 Rasanya kayak settingan ya. Nilai negara sendiri ya kita tentukan sendiri.
Suara terakhir itu penting. Rasa ingin tahu orang Jepang tentang pengunjung asing bukan sekadar keceriaan satu dimensi. Ada lapisan kesadaran diri — beberapa orang merasa tidak nyaman dengan narasi "orang asing cinta Jepang," mempertanyakan apakah itu tulus atau apakah harga diri Jepang terlalu bergantung pada pengakuan dari luar. Kelompok skeptis menyumbang 12% suara, tapi mereka menambah kejujuran yang membuat 88% sisanya lebih kredibel.
Data × suara: Data Google Trends menunjukkan "kenapa orang asing datang ke Jepang" muncul dari ketiadaan dan melonjak. Suara-suara mengungkap kenapa orang Jepang mencari: bukan karena bingung atau curiga, tapi karena kehadiranmu membuat mereka melihat negara sendiri dengan cara berbeda. Ketertarikanmu pada mesin penjual otomatis yang random, gang yang tenang, atau cara kasir konbini membungkus bento — momen-momen itu memicu penemuan kembali yang lembut. Survei IIBC 2024 menemukan bahwa 77,6% orang Jepang ingin memberikan keramahan kepada pengunjung asing. Keinginannya ada. Yang kurang adalah rasa percaya diri.
"Ikuti Aturannya — Tapi Kami Tahu Kami Juga Harus Berusaha"
Survei pemerintah bertanya kepada orang Jepang apa yang mereka inginkan dari orang asing. Dua jawaban mendominasi:
- "Ikuti adat dan aturan kehidupan Jepang" — 77,5%
- "Pelajari bahasa dan budaya Jepang" — 60,7%
Kedengarannya ketat. Tapi survei yang sama bertanya apa yang harus dilakukan orang Jepang sendiri. Dan di sinilah jadi menarik:
- "Tidak bersikap diskriminatif terhadap orang asing" — 66,2%
- "Menyapa orang asing di sekitar rumah dalam kehidupan sehari-hari" — 43,5%
- "Mempelajari bahasa asing, budaya, dan adat istiadat" — 40,7%
Dualitas ini mencolok. Ya, mereka ingin kamu berusaha. Tapi mereka juga menyadari tanggung jawabnya berjalan dua arah.
外国人観光客が増えて生活しづらいし出かけても気分が悪い事が増え出かけなくなりました。私の心が狭いのでしょうか。 Turis asing meningkat sampai kehidupan sehari-hari jadi sulit. Keluar rumah sering bikin perasaan buruk, jadi saya berhenti keluar. Apakah saya terlalu sempit pikiran?
Kalimat terakhir — Apakah saya terlalu sempit pikiran? — muncul dalam pertanyaan yang menerima 280 respons simpatik. Frustrasinya nyata. Tapi keraguan pada diri sendiri juga. Orang Jepang tidak hanya meminta kamu beradaptasi. Mereka bertanya pada diri sendiri apakah reaksi mereka adil.
これまでの経験では、外国人にやんわりと言うような注意では絶対に理解してもらえませんよ?日本の様に「空気を読む」文化が逆に助長していることも見直すべきです。 Dari pengalaman saya, menegur secara halus dan tidak langsung sama sekali tidak berhasil dengan orang asing. Kita juga harus meninjau ulang bagaimana budaya "baca situasi" ala Jepang justru memperburuk masalah.
Data × suara: Pencarian "Tata krama orang asing" naik 1,6 kali — pertumbuhan paling lambat di antara semua istilah pencarian terkait kekhawatiran. Pencarian infrastruktur overtourism naik 10,8 kali, pencarian tata krama hanya 1,6 kali. Ini cocok dengan suara-suara yang terdengar: frustrasi terdalam bukan soal perilaku individu wisatawan. Tapi soal sistem yang tidak mengkomunikasikan ekspektasi dengan jelas, dibungkus dalam budaya yang mengharapkanmu paham sendiri tanpa diberitahu.
"Saya Tidak Benci Kamu. Cuma Belum Pernah Ketemu"
68,3% orang Jepang mengakui bahwa prasangka terhadap orang asing ada di Jepang. Itu pengakuan yang luar biasa jujur. Tapi pencarian "benci orang asing" tetap datar. Bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan?
Suara-suara menjelaskan:
「外国人」と見ている段階で偏見はなくならない。その個人に注目して、その個人のいいところを探す。つまり、日本人の知人に対してと同じように見なければ。 Kamu tidak bisa mengatasi prasangka selama kamu masih melihat "orang asing." Kamu perlu fokus pada individunya dan menemukan kelebihan mereka — melihat mereka sama seperti kamu melihat kenalan orang Jepang.
島国根性で、彫りの深い顔、低い声、長い手足に漠然とした不安を感じていた。 Dengan mentalitas negara kepulauan, saya dulu merasakan kecemasan yang samar terhadap wajah dengan hidung mancung, suara rendah, dan anggota badan yang panjang.
たまに駅などで地図などを片手に困っている外国人さんを見かけます。助けられるなら助けたいのですが、言語の壁が不安で…一度こういう方を助けようとして何もできなかった事があり、それからとても落ち込みました。 Kadang saya lihat orang asing di stasiun tampak bingung sambil memegang peta. Saya ingin membantu kalau bisa, tapi khawatir soal hambatan bahasa... Pernah suatu kali saya mencoba membantu seseorang seperti itu tapi tidak bisa melakukan apa-apa, dan setelah itu saya merasa sangat sedih.
外国人と友達になりたいのですがどうすればいいですか?自分は中学3年です。同じ年齢の外国人と知り合いたいけど、人見知りなので… Bagaimana caranya berteman dengan orang asing? Saya kelas 3 SMP. Saya mau kenal orang asing seusia, tapi saya pemalu...
Data × suara: Di sinilah data dan suara menceritakan kisah yang sama dari dua arah. Survei mengatakan 73,5% tidak punya teman asing karena "tidak ada kesempatan." Data pencarian menunjukkan "benci orang asing" datar. Dan suara-suara mengisi celah emosional: ini bukan kebencian. Ini campuran keinginan dan kecemasan — ingin membantu tapi lumpuh karena bahasa Inggris, ingin terhubung tapi tidak tahu harus mulai dari mana, ingin ramah tapi membeku di saat itu.
Bahkan di antara 23,5% yang bilang ke pemerintah bahwa mereka "tidak nyaman" dengan bertambahnya orang asing, survei menemukan bahwa 68,1% tetap ingin menyapa tetangga asing dan 68,3% ingin menggunakan bahasa yang mudah dipahami saat bicara dengan mereka. Rasa tidak nyamannya tentang perubahan itu sendiri — bukan tentang kamu sebagai pribadi.
Efek Kontak
Survei ISA mengungkap sesuatu yang mengikat semuanya:
| Punya teman asing? | "Menyambut" peningkatan orang asing | "Tidak nyaman" |
|---|---|---|
| Ya — teman | 44,4% | 18,8% |
| Ya — di sekolah | 43,2% | 19,3% |
| Ya — level tegur sapa | 36,5% | 21,2% |
| Tidak — tidak pernah punya | 19,9% | 25,6% |
Orang yang benar-benar pernah bertemu orang asing dua kali lebih mungkin menyambut mereka. Prediktor terkuat apakah seorang Jepang merasa positif tentang pengunjung asing bukan usia, pendidikan, atau tempat tinggal — tapi apakah mereka pernah bertemu satu orang.
Ini temuan paling penuh harapan dalam data. Kelompok "belum memutuskan" 47,3% bukan kondisi permanen. Itu posisi awal — dan bergerak ke arah "menyambut" begitu kontak nyata terjadi.
Ketika kamu tersenyum pada kasir konbini, bilang "sumimasen" sebelum bertanya, atau berusaha memisahkan sampah daur ulang — kamu tidak sekadar sopan. Kamu bagian dari sebuah data. Kamu sedang menggeser seseorang dari "saya belum yakin" menjadi "mungkin ini oke."
Apa Artinya Ini untuk Perjalananmu
Tidak ada data yang bilang "Jepang tidak mau kamu." Data mengatakan sesuatu yang lebih bernuansa — dan lebih manusiawi:
Jepang sedang berdialog dengan dirinya sendiri tentang cara menangani gelombang pengunjung terbesar dalam sejarahnya. Sistemnya kewalahan. Tapi orangnya? Kebanyakan berada di antara penasaran dan belum memutuskan — dan mereka yang benar-benar pernah bertemu pengunjung asing cenderung mengingatnya dengan hangat.
Kamu tidak perlu memecahkan masalah overtourism. Kamu tidak perlu sempurna. Kamu hanya perlu jadi orang yang layak ditemui.
Data menunjukkan kamu sudah begitu.
Lebih Banyak Perspektif Orang Jepang
- Apakah Jepang kelebihan turis? — Sisi kebijakan: harga dua tingkat, batas wisatawan, dan apakah langkah-langkahnya berhasil
- 42 juta pengunjung — Apakah orang Jepang senang? — Perbedaan regional dalam cara Jepang menerima rekor jumlah pengunjung
- Di mana kamu paling disambut — Tempat-tempat di mana sentimen warga lokal paling hangat
- Kamu terlalu khawatir — Kenapa kecemasan orang Jepang tentang bahasa Inggris mencerminkan kecemasanmu tentang bahasa Jepang
Bagikan Pengalamanmu
Pernahkah kamu merasakan rasa ingin tahu Jepang? Pernahkah kamu melihat seseorang ingin membantu tapi ragu? Kami ingin mendengar ceritamu.
Sumber
Government Survey Data (Primary Source — directly analyzed)
- Immigration Services Agency (出入国在留管理庁): Survey on Attitudes Toward Coexistence with Foreign Nationals (Japanese Respondents), FY2023
- Published: March 2024
- Survey period: October 17 – November 30, 2023
- Sample: 10,000 randomly selected Japanese citizens (Basic Resident Register), 4,424 valid responses (44.7% response rate)
- Method: Mail/web hybrid
- Full report (PDF): https://www.moj.go.jp/isa/content/001416010.pdf
- Overview page: https://www.moj.go.jp/isa/support/coexistence/survey03.html
- Key data used:
- Q13 (p.32): Feelings about foreigners increasing — 28.7% favorable, 47.3% neutral, 23.5% unfavorable
- Q13 age cross-tabulation (p.33): 18–19 year olds 53.2% favorable
- Q11 (p.24): Reasons for no foreign friends — 73.5% "no opportunity"
- Q14 (p.36): Attitudes toward impact of foreigners increasing — 17 items
- Q19 (p.49): 68.3% acknowledge prejudice exists
- Q22 (p.65): 77.5% want foreigners to follow customs, 60.7% want language/culture learning
- Q23 (p.68): 66.2% say they should not discriminate, 43.5% would greet foreign neighbors
- Q13×Q11 (p.111): Contact effect — friendship predicts welcoming attitude
- Q13×Q24 (p.120): Even "unfavorable" group: 68.1% want to greet, 68.3% want to use easy language
Google Trends Data (Primary Source — directly retrieved)
- Google Trends Japan (trends.google.co.jp)
- Retrieved: May 16, 2026
- Method: Relative search interest (0–100 scale), monthly data aggregated to annual averages
- Geographic filter: Japan only
- Timeframe: January 2019 – January 2026
- 16 search terms analyzed across 4 thematic sets
- Raw data stored in
sources/google_trends_data.json
Tourism Context
- Japan Tourism Agency: Tourism White Paper 2025 (令和7年版観光白書)
- 2025 visitor numbers: 42.68 million (record high)
- 2024 visitor spending: ¥8.1 trillion (record high)
- Summary PDF: https://www.mlit.go.jp/kankocho/content/001890451.pdf
Japanese Voices
- Situs tanya-jawab, forum, dan unggahan media sosial berbahasa Jepang yang terbuka untuk umum — pendapat langsung tentang bagaimana perasaan orang Jepang terhadap pengunjung
- IIBC (一般財団法人 国際ビジネスコミュニケーション協会) Survey 2024
- Various news commentary (Toyo Keizai, Gendai Business, Nikkei)
Note on Quotations
Quotes from online platforms have been lightly edited for readability (fixing typos, formatting for clarity). The meaning and intent of each comment remain unchanged. Original sources are linked above.
How well do you know Japan?
Based on 19,217+ real Japanese voices
Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang
この記事についてもっと聞きたいことがありますか?日本人に聞いてみます。
Voice Box →