Skip to content
WMJS
Apakah Menyeruput Mie di Jepang Itu Tidak Sopan?
What Makes Japan Smile Oleh Kei · Lahir dan besar di Jepang Diperbarui 13 menit baca

Apakah Menyeruput Mie di Jepang Itu Tidak Sopan?

Yang akan kamu pelajari dalam artikel ini:

  • Apa kata 403 orang Jepang tentang menyeruput, tidak menyeruput, dan mitos "harus menyeruput"
  • Mengapa jawaban sebenarnya jauh lebih santai dari yang ditulis panduan wisata
  • Pergeseran generasi mengejutkan yang sedang terjadi di Jepang saat ini

Kalau kamu pernah googling "makan mie di Jepang," kamu mungkin sudah pernah melihat klaim ini: menyeruput itu sopan di Jepang. Tidak menyeruput itu tidak sopan. Beberapa panduan wisata bahkan lebih jauh lagi -- menyarankan bahwa kalau kamu tidak menyeruput, kamu menghina koki.

Tapi begini kenyataannya: kami bertanya kepada 403 orang Jepang tentang apa yang mereka benar-benar pikirkan. Dan jawabannya jauh lebih santai dari yang internet ingin kamu percayai.

Versi singkatnya? Makan saja dengan cara yang nyaman untukmu. Seruput kalau mau. Jangan seruput kalau tidak mau. Sebagian besar orang Jepang bilang mereka tidak keberatan -- dan banyak dari mereka sendiri juga tidak menyeruput.

Mari kita lihat apa yang mereka sebenarnya katakan.

Apakah tidak sopan kalau tidak menyeruput mie di Jepang? Kami bertanya ke 403 orang Jepang. Kejutan terbesar: 80% bilang menyeruput itu tidak wajib. Internet mengubah "boleh menyeruput" menjadi "harus menyeruput," padahal orang Jepang sendiri tidak mengharapkannya. 76% tidak masalah kalau Anda makan dengan tenang, 91% menghargai orang asing yang mencoba, dan 58% mengakui suara menyeruput yang terlalu keras pun mengganggu mereka. Makan dengan cara yang nyaman buat Anda — itulah etika yang sebenarnya.


Panduan Cepat

Situasi Apa Kata Orang Jepang
🟢 Santai Makan pelan tanpa menyeruput 76% bilang tidak masalah atau mereka mengerti. Banyak wanita Jepang juga tidak menyeruput. Makanlah dengan cara yang kamu nikmati.
🟢 Santai Mencoba menyeruput (meski agak canggung) 91% merespons positif atau netral. Kalau mau coba, tidak ada yang akan menilai. Beberapa malah menganggapnya menggemaskan.
🟡 Baik untuk diketahui Mitos "harus menyeruput" 80% bilang menyeruput TIDAK wajib. "Boleh menyeruput" ≠ "harus menyeruput." Perbedaan ini penting.
🟡 Perlu diperhatikan Menyeruput terlalu keras 58% orang Jepang bilang bahkan mereka sendiri merasa terganggu dengan seruputan yang terlalu keras. Ada batas volume -- dan berlaku untuk semua orang.

Satu hal yang perlu diingat: Menyeruput di Jepang bukan aturan yang harus diikuti -- melainkan kebebasan yang boleh kamu gunakan. Etika yang sesungguhnya? Menikmati makananmu. Dan kalau ingin menunjukkan apresiasi, mengucapkan gochisousama di akhir makan jauh lebih berarti dari seruputan apa pun.


Bagaimana Kami Mengumpulkan Suara-Suara Ini

Kami mengumpulkan 403 tanggapan berbahasa Jepang dari lima topik terkait mie: apakah tidak menyeruput itu tidak sopan (85 tanggapan), reaksi terhadap orang asing yang mencoba menyeruput (62 tanggapan), perasaan tentang makan pelan (87 tanggapan), pendapat tentang menyeruput terlalu keras (84 tanggapan), dan perbedaan generasi (85 tanggapan). Kami mengumpulkan suara-suara ini dari situs tanya jawab, forum, dan unggahan media sosial berbahasa Jepang yang terbuka untuk umum, bersama artikel dari pakar serta jurnalis kuliner.

Catatan: Ini bukan survei ilmiah terkontrol -- ini adalah kumpulan dari apa yang benar-benar dikatakan orang Jepang dengan kata-kata mereka sendiri, dalam bahasa mereka sendiri, di platform publik. Kebanyakan panduan berbahasa Inggris hanya bilang "seruput mie-mu." Kami ingin menunjukkan apa yang orang Jepang sebenarnya pikirkan -- dan ternyata, jawabannya jauh lebih bernuansa (dan jauh lebih memaafkan) dari yang panduan katakan.


Pertama, Kejutan Terbesar: Mitosnya Memang Mitos

Klaim bahwa "tidak menyeruput itu tidak sopan di Jepang" muncul di mana-mana dalam konten wisata berbahasa Inggris. Tapi ketika kamu bertanya langsung kepada orang Jepang, gambarannya sama sekali berbeda.

Dari 85 tanggapan tentang apakah tidak menyeruput itu tidak sopan:

Tidak wajib
45%
Tergantung
35%
Seharusnya menyeruput
20%

80% orang Jepang bilang menyeruput sama sekali tidak wajib atau tergantung situasi. Hanya 20% yang merasa benar-benar harus dilakukan.

Seorang spesialis pariwisata inbound menjelaskan persis bagaimana mitos ini bermutasi:

「音を立てて食べることは無作法ではなく、むしろおいしく味わえる」という事実が、いつの間にか「音を立てて食べることが必須」に変わってしまった。正しいマナーは、食べ終わったときに「ごちそうさまでした」とひと言伝えるほうが、ずっと喜んでもらえる「おいしい」の表現です。 Fakta bahwa "makan dengan suara bukan hal buruk, bahkan membantu menikmati rasa" entah bagaimana berubah menjadi "makan dengan suara itu wajib." Cara menunjukkan apresiasi yang sesungguhnya? Ucapkan "gochisousama" saat selesai makan -- itu membuat koki jauh lebih senang daripada seruputan apa pun. -- Konsultan pariwisata inbound

Perbedaan itu adalah segalanya. "Boleh menyeruput" berubah menjadi "harus menyeruput" di suatu titik dalam penerjemahan -- dan sekarang diulang di ribuan panduan wisata seolah-olah itu fakta.

Sebuah jawaban yang banyak disetujui mengatakannya dengan sempurna:

麺をすする=日本のマナーではなく、麺は音を立てて啜ってもいいよ!の感じ。一定の啜る音は許容されますが、大きな音はNG。 Menyeruput mie bukan "tata krama" Jepang -- lebih seperti "hei, boleh kok bikin suara saat makan mie!" Tingkat suara seruputan tertentu diterima, tapi suara keras justru tidak oke.

Dan seorang antropolog budaya memberikan pandangan yang lebih mendalam:

平安時代に宮廷で箸のみが使われるようになったことで、汁をすするようになった。 Ketika sumpit menjadi satu-satunya alat makan di istana zaman Heian, menyeruput cairan menjadi konsekuensi alami. -- Antropolog budaya

Dengan kata lain: menyeruput tidak diciptakan sebagai etika. Ia berevolusi secara alami dari cara makan dengan sumpit -- dan menjadi sesuatu yang ditoleransi, bukan diwajibkan.

💡 Mitos, terpecahkan

"Boleh menyeruput" berubah menjadi "harus menyeruput" di suatu titik dalam penerjemahan. Orang Jepang tidak mengharapkanmu menyeruput -- mereka hanya tidak akan menilaimu kalau kamu melakukannya. Itu perbedaan yang sangat besar, dan sesuatu yang hampir semua panduan wisata lewatkan begitu saja.


Yang Benar-Benar Penting -- Pengukur Suhu

Setelah mitos sudah kita luruskan, mari lihat apa yang orang Jepang benar-benar rasakan tentang berbagai cara orang makan mie.


🟢 Makan Pelan -- Sama Sekali Tidak Masalah

Jawaban jujurnya: kebanyakan orang Jepang tidak peduli kalau kamu makan pelan.

Dari 87 tanggapan tentang orang asing makan mie tanpa menyeruput:

Sama sekali oke
45%
Bisa dimaklumi
31%
Agak aneh
24%

76% tanggapan menerima atau memahami. Dan ini mungkin mengejutkanmu: banyak orang Jepang sendiri juga tidak menyeruput.

私はすすらないです。汁が周りにはねるからです。 Saya tidak menyeruput. Kuahnya berciprat ke mana-mana.

すする音が嫌なのですすらない。 Saya tidak suka suaranya, jadi saya tidak menyeruput.

わたしもすすれません。友達と一緒に食べてると、マナーとしてすすってないと思われて、「すすっていいんだよ」って言われたりするんですけど、そうじゃなくて、本当にすすれないだけなんです。 Saya juga tidak bisa menyeruput. Waktu makan bareng teman, mereka mengira saya menjaga sopan santun lalu bilang "tidak apa-apa menyeruput lho!" Tapi bukan begitu -- saya memang benar-benar tidak bisa.

Suara terakhir itu datang dari thread yang khusus membahas orang Jepang yang tidak bisa menyeruput -- dan ada ratusan balasan. Kamu tidak sendirian.

Pemilik kedai ramen di Jerman menambahkan observasi yang menarik:

ドイツでは日本のように麺をズルズルと啜る人はほとんど見かけません。逆に現地の日本人のお客様が、周囲に気を遣われて音を立てないようにして食べている様子が見られます。 Di Jerman, hampir tidak ada yang menyeruput mie seperti di Jepang. Justru, pelanggan Jepang di sini pun makan dengan tenang -- mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. -- Pemilik kedai ramen di Jerman

Bahkan orang Jepang pun menyesuaikan cara menyeruput mereka sesuai konteks. Kalau mereka tidak mengharapkan diri mereka sendiri menyeruput di mana-mana, tentu mereka juga tidak mengharapkanmu melakukannya.

Dan satu suara memberikan nasihat yang langsung berhubungan dengan kekuatan mengucapkan itadakimasu:

そんなことはありません!食べ終わったときに「ごちそうさまでした」とひと言伝えるほうが、ずっと喜んでもらえる「おいしい」の表現です。 Sama sekali tidak! Mengucapkan "gochisousama" saat selesai makan -- itu cara yang jauh lebih baik untuk mengatakan "enak sekali," dan akan membuat mereka jauh lebih senang.

💡 Kamu punya banyak teman

Banyak orang Jepang juga tidak menyeruput -- ada yang tidak bisa, ada yang tidak suka suaranya, ada yang tidak mau kuah berciprat ke baju. Kalau kamu makan pelan, kamu melakukan hal yang persis sama dengan sebagian besar orang Jepang setiap hari.


🟢 Mencoba Menyeruput -- Silakan Saja

Kalau kamu ingin mencoba menyeruput, tidak ada yang akan menilai -- dan beberapa orang bahkan diam-diam mendukungmu.

Dari 62 tanggapan tentang orang asing yang mencoba menyeruput:

Menggemaskan
52%
Tidak memperhatikan
39%
Lebih suka tenang
10%

91% orang Jepang merespons positif atau netral terhadap orang asing yang mencoba menyeruput. Hanya 10% yang lebih suka makan tenang.

外国人の皆さん、ラーメンは無理にすすって食べなきゃならないなんてこと、1ミリもないので安心して、味わってくださいね! Untuk semua pengunjung -- tidak ada kewajiban satu milimeter pun untuk memaksakan diri menyeruput ramen. Silakan santai dan nikmati saja rasanya!

Seorang pakar soba memberikan pembedaan penting tentang suara:

蕎麦は音を立てて食べるのが良いのではなく、音を立ててもかまわないのです。空気と一緒に啜りこむときの音は結果であって目的ではありません。 Inti dari makan soba bukan membuat suara -- melainkan membuat suara itu boleh-boleh saja. Suara saat menarik mie bersama udara adalah hasil, bukan tujuan.

Perspektif ini penting. Kalau kamu mencoba menyeruput dan suaranya agak aneh -- tidak apa-apa. Suara itu adalah efek samping dari teknik, bukan tujuannya. Tidak ada yang mendengarkan apakah kamu menyeruput dengan "benar."

Seorang jurnalis kuliner mengamati bahwa menyeruput bahkan menyebar ke arah sebaliknya:

ニューヨークやロサンゼルスなどの都市部には意識高いフーディーが多いので、当然のようにラーメンの麺を啜り込む外国人は増え続けています。とはいえ啜り方はまだぎこちないので、それがアメリカらしいとも言えますね。 Di kota-kota seperti New York dan LA, para pecinta kuliner menyeruput ramen dengan alami. Teknik mereka masih agak kaku, tapi itu juga jadi daya tarik khas Amerika. -- Jurnalis kuliner

💬 What do you think?

Japanese readers: How do you feel about this?Visitors: Have you experienced this in Japan?

Share your voice →

🟡 Soal Volume -- Ya, Ada Batasnya

Ini nuansa yang kebanyakan panduan lewatkan: bahkan di antara sesama orang Jepang, menyeruput terlalu keras itu kontroversial.

Dari 84 tanggapan tentang volume seruputan:

Ada batasnya
58%
Tergantung
13%
Selalu oke
29%

58% orang Jepang mengakui bahwa ADA batas volume seruputan yang diterima. Ini bukan hanya kekhawatiran orang asing -- melainkan percakapan aktif dalam budaya Jepang sendiri.

Seseorang menggambarkan garis antara yang diterima dan tidak diterima dengan sangat jelas:

麺類のすする音が大嫌いです。少し音がなるくらいならいいです。「ちゅるちゅる」ってかんじ。でもおっさんとかが「ズォー」って食べるのを聞くとすごくイラつきます。 Saya benci suara seruputan keras. Kalau sedikit berbunyi sih oke, yang "churu churu" gitu. Tapi kalau bapak-bapak menyeruput "ZUOOO" -- bikin kesal banget.

Pembedaan itu -- churu churu vs. ZUOOO -- muncul berulang-ulang. Ada ambang volume yang dipahami secara luas (meskipun tidak terucap).

すすること自体はOKだが、音量が大きすぎるのはマナー違反。 Menyeruput sendiri oke, tapi kalau terlalu keras itu pelanggaran etika.

わざとらしく、大きな音を立てるのは下品です。 Sengaja membuat suara keras itu tidak sopan.

Beberapa orang menunjukkan bahwa konteks itu penting:

正式な和食のマナーとしては、マナー違反です。ラーメン屋で食う分には下品に食べても目くじら立てない、というのが大人のマナー。 Dalam tata krama masakan Jepang formal, itu memang pelanggaran etika. Di kedai ramen, tidak mempermasalahkan cara makan yang berantakan -- itulah etika orang dewasa yang sesungguhnya.

Dan para pembela tradisi menyeruput juga punya argumen:

すすって食べないと火傷します。すするのは麺と空気を同時に吸い込みながら火傷せずに食べるためのテクニックです。 Kalau tidak menyeruput, kamu akan kepanasan. Menyeruput adalah teknik untuk menarik mie dan udara bersamaan agar tidak terbakar.

Kedua sisi punya poin. Menyeruput punya tujuan praktis -- tapi ada perbedaan antara menyeruput fungsional dan menyeruput pertunjukan. Seperti kata satu suara: "suara itu hasil, bukan tujuan."

💡 Aturan volume yang tak tertulis

Orang Jepang sendiri membedakan antara seruputan lembut "churu churu" dan seruputan agresif "ZUOOO." Batasnya bukan soal apakah kamu menyeruput atau tidak -- tapi apakah kamu menyeruput sampai menenggelamkan suara orang di sebelahmu. Dan itu berlaku untuk semua orang, bukan hanya pengunjung.


Mesin Budaya: Mengapa Menyeruput Ada -- Dan Mengapa Bergeser

Jadi mengapa menyeruput menjadi hal biasa di Jepang sejak awal? Dan apakah itu berubah?

Asal Usul Praktis

Menyeruput tidak diciptakan sebagai pernyataan budaya. Ia berevolusi karena alasan praktis:

Pendinginan: Menarik mie panas dengan aliran udara mendinginkannya saat masuk mulut. Dengan kuah ramen yang mendidih, ini bukan hanya teknik -- ini soal bertahan hidup.

Rasa: Beberapa orang (dan beberapa master soba) berpendapat bahwa menarik mie bersama udara membawa lebih banyak aroma ke indra perasa. Apakah ini sains atau tradisi masih diperdebatkan, tapi ini keyakinan yang nyata:

そもそも啜って食べる事で香りや味を楽しむ様に考えて作られる蕎麦。 Soba dirancang untuk dinikmati dengan menyeruput -- menarik aroma dan rasa bersamaan.

Mekanisme sumpit: Tidak seperti garpu yang bisa menggulung dan mengangkat, sumpit menjepit mie di tengah helai. Menyeruput adalah cara alami untuk membawa mie panjang dari mangkuk ke mulut ketika satu-satunya alat yang kamu punya adalah sepasang tongkat.

Toleransi, bukan kewajiban: Seorang analis budaya merangkum: budaya makan Jepang mengembangkan toleransi terhadap suara makan saat makan mie -- bukan kewajiban. Dalam masakan kaiseki formal, keheningan masih diharapkan. Kedai ramen hanya beroperasi di bawah aturan yang berbeda.

Pergeseran Generasi

Ini adalah sesuatu yang media Jepang sedang aktif membahas: anak muda Jepang semakin jarang menyeruput.

Dari 85 tanggapan tentang perbedaan generasi:

Pergeseran itu nyata
51%
Campuran / personal
31%
Tidak berubah
19%

Survei Shirabee (n=1,653) menemukan bahwa 20.1% orang Jepang punya ketidaknyamanan terhadap menyeruput -- dan angkanya melonjak ke 30% di kalangan remaja perempuan, tertinggi dari kelompok demografi mana pun.

昔から、麺を上手にすすることができない。好きなのに食べるのが下手なのを見せたくないので、外食ではあまり麺類のお店には行かないようにしている。 Dari dulu saya tidak pernah bisa menyeruput dengan baik. Saya suka mie, tapi tidak mau terlihat makan dengan canggung, jadi saya cenderung menghindari kedai mie saat makan di luar. -- Wanita usia 20-an, survei Shirabee

そういえば、私もすすってないです。いちお若者です。この質問みるまで自分でも気にしてなかったですが。外だけでなく、家でもすすりません。 Oh iya, saya juga tidak menyeruput. Saya masih muda. Saya bahkan tidak sadar sampai lihat pertanyaan ini -- saya tidak menyeruput baik di luar maupun di rumah.

Dimensi gender cukup signifikan. Di sebuah forum Jepang yang didominasi perempuan, banyak wanita berbagi alasan praktis untuk tidak menyeruput:

ラーメンとかをすすると、汁が飛び散って服にかかってしまうことがある。それが嫌なので、箸で麺を押し込むような感じで食べている。 Kalau menyeruput ramen, kuahnya bisa berciprat ke baju. Saya tidak suka itu, jadi saya makan dengan cara mendorong mie ke mulut pakai sumpit.

Beberapa orang membela tradisi:

レンゲにミニラーメン作って食べるの見ると引くわ。豪快にすすれとは言わないけど、無音で麺を噛み切って食べるのは変。 Melihat orang bikin ramen mini di sendok lalu makan agak aneh sih. Saya tidak bilang harus menyeruput kencang, tapi makan mie dalam diam total sambil menggigit putus itu juga aneh.

Tapi trennya jelas: menyeruput di Jepang sedang berevolusi. Tidak menghilang -- tapi semakin menjadi pilihan personal dan semakin bukan ekspektasi budaya. Artinya, makan pelan semakin menjadi hal normal, lebih dari yang sudah-sudah.


Apa yang Orang Jepang Sebenarnya Ingin Kamu Tahu

Setelah membaca semua 403 tanggapan, pesan yang paling sering muncul bukan soal teknik menyeruput. Melainkan:

Nikmati saja makananmu.

日本って平和なんだな〜と思います。そんなもんどっちだっていいよ。 Jepang pasti benar-benar damai kalau ini yang sedang kita debatkan. Jujur, terserah saja.

嫌いなものは嫌いでかまわないことです。啜る人に啜るなというほどのことでもないし、啜らない人に啜れというほどのことでもない。 Tidak suka ya tidak suka, tidak apa-apa. Tidak perlu menyuruh yang menyeruput untuk berhenti, dan tidak perlu menyuruh yang tidak menyeruput untuk mulai.

食べ方は自由で、啜れない人は仕方がないと思います。 Cara makan itu kebebasan. Kalau seseorang tidak bisa menyeruput, itu sama sekali tidak masalah.

Dan dari seorang profesor Universitas Tokyo yang berkomentar dalam perdebatan "noodle harassment":

食事の場で権力関係は生じにくい。メディアは「ハラスメント」というキャッチーな表現に安易に乗っかり、言葉の使い方への注意が欠如しています。 Dinamika kekuasaan sulit muncul di meja makan. Media langsung melompat ke kata "harassment" yang menarik tanpa berhati-hati dalam penggunaan kata.

Intinya dari orang Jepang sendiri: tidak ada polisi mie. Tidak ada yang mengawasi cara kamu makan ramen. Orang-orang yang paling peduli dengan pengalamanmu -- koki, staf -- hanya ingin kamu menikmatinya.

Dan kalau benar-benar ingin membuat koki ramen tersenyum? Jawabannya sama seperti soal etika sumpit: menikmati makanan adalah etika yang sesungguhnya. Ucapkan gochisousama saat pulang. Itu jauh lebih berarti dari apakah kamu menyeruput atau tidak.


Lebih Banyak Perspektif Jepang

Penasaran tentang aspek lain dari makan dan kehidupan sehari-hari di Jepang? Artikel-artikel ini mengeksplorasi apa yang orang Jepang benar-benar pikirkan -- berdasarkan ratusan suara nyata.


Bagikan Pengalamanmu

Pernah punya momen lucu, canggung, atau ternyata santai saat makan mie di Jepang? Kami ingin mendengarnya. Ceritamu membantu membangun jembatan antar budaya.

Bagikan pengalamanmu di Voice Box →


Sumber

Data Penelitian Utama

  • Data penelitian menyeruput WMJS (403 tanggapan berbahasa Jepang dikumpulkan April 2026)
    • Apakah tidak menyeruput itu tidak sopan: 85 tanggapan
    • Reaksi terhadap orang asing yang mencoba menyeruput: 62 tanggapan
    • Perasaan tentang makan pelan: 87 tanggapan
    • Pendapat tentang menyeruput terlalu keras: 84 tanggapan
    • Perbedaan generasi: 85 tanggapan

Data Statistik

Sumber Pengumpulan Opini

Sumber-sumber berikut digunakan untuk mengumpulkan opini dan sentimen orang Jepang. Ini bukan dikutip sebagai otoritas faktual melainkan sebagai tempat orang Jepang yang sesungguhnya menyatakan pandangan mereka tentang menyeruput.

Catatan tentang Kutipan

Kutipan dari platform online telah diedit ringan untuk kemudahan baca (memperbaiki typo, memformat agar lebih jelas). Makna dan maksud dari setiap komentar tidak berubah. Sumber asli ditautkan di atas.

How well do you know Japan?

Based on 19,217+ real Japanese voices

Take the Quiz

Ingin tahu lebih banyak? Tanyakan kepada orang Jepang

この記事についてもっと聞きたいことがありますか?日本人に聞いてみます。

Voice Box →